Dilarang Bos Jemput Anak, Wanita Inggris Terima Kompensasi Senilai Rp3,6 Miliar

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pengalaman kurang menyenangkan dialami wanita asal Inggris bernama Alice Thompson. Ia ingin bekerja empat hari dalam seminggu dan pulang pukul lima sore agar bisa menjemput anaknya di tempat penitipan.

Namun, atasannya, Paul Sellar, yang merupakan direktur perusahaan tersebut, menolak permintaannya. Thompson harus tetap pulang pukul enam sore dan tidak dibolehkan kerja paruh waktu. Karena permintaannya tidak dipenuhi, Thompson memilih mengundurkan diri.

Ia kemudian mengadukan tempat kerjanya, Manors, agen properti yang berbasis di London ke pengadilan ketenagakerjaan karena dianggap melakukan diskriminasi orientasi seksual. Ia mengaku melakukannya untuk memastikan agar putrinya tidak merasakan pengalaman yang sama saat dewasa nanti.

Dilansir dari The Sun, Selasa, 7 September 2021, Thompson akhirnya memenangkan tuntunan dan mendapat kompensasi sebesar 184.961 pound sterling atau sekitar Rp3,6 miliar. Dalam sidang dikatakan Thompson mulai bekerja di Manors dengan pendapatan 120 ribu pound sterling atau sekitar Rp2,3 miliar per tahun.

Ia dinilai cukup sukses dan mampu menjual banyak properti. Namun, hubungannya dengan Sellar mulai terganggu sejak ia mengatakan sedang hamil pada 2018 lalu.

Situasi itu ternyata membuat Sellar merasa kesal. Ia bahkan mengungkapkannya pada seorang kolega. "Kenapa dia harus hamil saat kita sedang melakukan pekerjaan dengan sangat baik. Saya pernah diperingatkan tentang mempekerjakan wanita seumurnya dan inilah yang terjadi," begitu dugaan ucapan Sellar.

Sellar membantah itu semua, termasuk pernyataan Thompson selanjutnya. Thompson kemudian mengungkap pada Agustus 2018, para karyawan diajak liburan ke New York, Amerika Serikat, tapi ia merasa diasingkan.

Saat yang lain pergi berjalan-jalan sambil minum-minum, Thompson hanya berbelanja sebentar dan kembali ke hotel. Tapi, Sellar menuduh mantan karyawannya itu tidak bersyukur, padahal ia sudah mengeluarkan biaya cukup besar untuk mengajaknya liburan.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Cuti Melahirkan

Crystal, karyawan yang dipecat berfoto dengan anaknya yang tengah sakit, Jason. (Ilustrasi: Pexels.com)
Crystal, karyawan yang dipecat berfoto dengan anaknya yang tengah sakit, Jason. (Ilustrasi: Pexels.com)

Pada Oktober 2018, Thompson selesai membuat laporan tentang 11 penjualan untuk segera mendapat komisi sebelum mengambil cuti melahirkan. Namun, Sellar menolaknya dan mengatakan akan memberi komisi saat ia kembali bekerja nanti usai melahirkan.

Saat menjalani cuti melahirkan, Thompson merasa diperlakukan seperti orang luar. Ia diminta mengembalikan ponsel milik kantor dan kunci kantor oleh atasannya. Menurut pengadilan, dalam kontrak disebutkan Thompson harus bekerja dari pukul sembilan pagi sampai pukul enam sore.

Ia juga akan tetap mendapatkan gaji jika tidak masuk karena sakit, tapi tidak diterangkan bagaimana saat ia tidak masuk karena cuti melahirkan. Sebelumnya, dua karyawan wanita di perusahaan tersebut pernah menjalani cuti melahirkan dan setelah masuk kerja dibolehkan bekerja paruh waktu untuk mengurus anak.

Usai melahirkan pada November 2018, Thompson mengajukan permintaan untuk mendapatkan jam kerja lebih fleksibel. Namun, Sellar menolak permintaannya dengan beragam alasan. Salah satunya karena pengurangan jam kerja bisa membuat Thompson sulit memenuhi permintaan klien untuk bertemu, sehingga akan sulit mengatur tugas staf lain.

Dengan berbagai kesulitan yang dialami selama bekerja, Thompson memutuskan untuk mengundurkan diri pada Desember 2019. Sejak itu, Thompson kesulitan mendapatkan pekerjaan lagi.

Diskriminasi Seksual

Ilustrasi anak dan ibu (Nathan Dumlao/Unsplash).
Ilustrasi anak dan ibu (Nathan Dumlao/Unsplash).

Thompson merasa kariernya hancur karena kehilangan banyak relasi. Ia kemudian menuntut Scancrow Ltd, perusahaan induk Manors, karena melakukan diskriminasi, pelecehan, tindakan tidak adil, dan secara tidak langsung melakukan diskriminasi seksual terhadapnya.

Pihak pengadilan yang dipimpin hakim Sarah Jane Goodman menetapkan mengabulkan tuntutan Alice. "Permintaan Thompson tidak dipertimbangkan dengan baik dan itu adalah perlakuan kurang adil karena keputusan diambil berdasarkan jenis kelaminnya," demikian kesimpulan pihak pengadilan.

"Sebagian besar ibu mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri setelah kembali bekerja usai melahirkan. Kondisi yang dialami Thompson lebih buruk lagi karena mengalami perlakuan tidak adil, sehingga harus berhenti dan kesulitan mencari pekerjaan," lanjut keputusan tersebut.

4 Poin Utama Cegah Klaster Keluarga

Infografis 4 Poin Utama Cegah Klaster Keluarga. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis 4 Poin Utama Cegah Klaster Keluarga. (Liputan6.com/Abdillah)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel