Dilema Ferrari Penuhi Budget Cap Tanpa Pengurangan Staf

Franco Nugnes
·Bacaan 1 menit

Krisis finansial akibat pandemi Covid-19 juga dirasakan perusahaan sebesar Ferrari. Mereka pun mesti melakukan pengetatan ikat pinggang.

Rapor tim hanya sampai peringkat keenam klasemen konstruktor F1 2020, yang terburuk sejak 1980, jadi pertimbangan lain untuk menerapkan rencana tersebut.

Tim Kuda Jingkrak butuh penguatan teknik yang belum diresmikan karena Manajemen Olahraga sedang melakukan restrukturisasi departemen balap dengan pengempisan staf agar memenuhi batas anggaran.

Batas anggaran 145 juta dollar (sekitar Rp2 triliun) di musim pertama, jelas tim-tim top terpaksa mengurangi staf. Ini operasi yang rumit dapat berdampak besar pada fungsionalitas tim.

Ada masalah kontrak, di Britania Raya, hukum tenaga kerja lebih fleksibel daripada Italia. Jadi prosesnya lebih sulit daripada Mercedes dan Red Bull.

“Mereka memberi waktu kami enam bulan. Faktanya kami meminta (waktu) lebih, tapi itu kompromi. Pandemi belum berakhir,” ucap prinsipal Ferrari, Mattia Binotto.

“Pemecatan? Itu sangat salah. Mekanisme enam bulan harus direvisi, kemungkinan hingga akhir tahun. Kami berupaya memindahkan staf ke divisi jalan raya karena kami perusahaan sangat besar. Kami punya opsi sedikit, tapi itu pekerjaan yang sulit.”

Mattia Binotto, Prinsipal Ferrari

Mattia Binotto, Prinsipal Ferrari <span class="copyright">Andy Hone / Motorsport Images</span>
Mattia Binotto, Prinsipal Ferrari Andy Hone / Motorsport Images

Andy Hone / Motorsport Images

Enrico Cardile harus menunjukkan semua kemampuan organisasi dalam mengelola kelompok kerja yang terus berubah.

Regulasi soal gaji, di mana hanya tiga bulan yang bisa dibayar penuh, akan mengacaukan departemen balap. Pemotongan bayaran bisa mendorong eksodus para teknisi dan kru yang cakap.

Ini akan membuat Ferrari yang berusaha bangkit makin terpukul. Program mereka akan tersendat kalau kehilangan sosok-sosok kunci dalam pengembangan mobil.