Dilema Ibu Bekerja: Merasa Belum Cukup Memberi Waktu untuk Buah Hati

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: Novita Ratna Sari - Malang

Belum lagi mentari terbit pagi ini. Tapi aku kembali terjaga mendahului mentari seperti sebelumnya. Mengayunkan spatula, memotong sayuran, menenggelamkan ikan di dalam minyak panas, membuat hari yang masih dini dan dingin tak lagi terasa. Suami dan anak-anakku masih jua terlelap, selimut belum lagi berpindah dari pelukan hangat. Semua sudah terhidang di meja. Walau sederhana, memasak selalu menguras energi karena aku belum begitu mahir melakukannya.

Aku pun mulai membangunkan anak-anak, sedangkan suamiku sudah memulai aktivitas paginya. Setelah aku membantu dua bidadariku bersiap, kami pun makan bersama. Tidak setiap hari aku bisa seperti ini, tapi berbeda karena ini hari libur untuk semua orang. Bahkan suamiku yang hampir tak pernah punya hari libur, hari ini berencana menghabiskan waktu bersama anak-anak.

Kami bersama mengayuh sepeda kemudian. Jalanan begitu sepi. Sisa ingar-bingar perayaan malam tahun baru masih terlihat. Aku tak pernah merasakan hal yang berbeda dalam duniaku walau tahun telah berganti. Kuperhatikan suami dan anak-anakku dari belakang sambil terus mengayuh sepeda, berkutat dengan pikiranku sendiri.

 

Dua Bidadariku

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/david zhou

Sudah lebih dari tujuh tahun aku menghabiskan hari-hariku bersama mereka. Tapi sampai hari ini aku belum merasa pantas menjadi seorang ibu. Dulu, anak sulungku harus rela kutinggalkan kuliah sejak usianya masih dua minggu. Namun, di usianya yang tepat satu tahun setelah penantian panjang dan kesabarannya menunggu kelulusanku, ternyata Allah punya rencana lain. Aku mendapat pekerjaan di almamater SMA.

Seminggu setelah wisuda, aku pun harus mulai bekerja dan meninggalkan dia lagi bersama pengasuh di rumah. Dia seolah sudah terbiasa tumbuh tanpa ibunya di pagi hingga sore hari. Sampai suatu hari saat adiknya lahir, wajah lugunya terlihat muram. Aku berkata padanya bahwa sekarang dia sudah menjadi seorang kakak, dia harus bahagia supaya adiknya juga bahagia. Aku meyakinkan bahwa aku sangat menyayanginya, ayahnya menyayanginya, bahkan adiknya juga menyayanginya. Tapi dia menjadi lebih pendiam dari sebelumnya. Dan aku makin merasa kehilangan banyak waktu yang berharga, kehilangan banyak momen yang aku tahu tak akan pernah bisa terulang.

Hari ini tahun telah berganti, dua bidadariku tumbuh menjadi anak yang begitu pengertian. Tak jarang mereka bertanya akankah suatu hari semua adalah hari libur agar aku selalu ada bersama mereka? Andai mereka tahu bahwa aku juga sering bertanya pada diriku sendiri kapan aku mengakhiri ambisi untuk terus bekerja.

Waktu untuk Mereka

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Dragon+Images

Kapan orang tuaku akan mengerti bahwa aku lebih ingin berada di rumah dengan anak-anakku? Akankah mereka mengerti bahwa gelar sarjana yang aku punya tak akan sia-sia walau aku ada di rumah? Akankah mereka mengerti bahwa aku tak mau mengulangi kesalahan yang mereka buat saat meninggalkan aku selalu sendiri bersama pengasuh? Akankah semua orang mengerti bahwa materi itu adalah tugas suami sebagai tulang punggung, tapi pendamping dan pendidik adalah tugasku sebagai tulang rusuk?

Aku hanya ingin menjadi ibu, menjadi ibu yang seutuhnya. Bukan ibu yang menyiapkan sarapan tapi kemudian pergi tanpa memastikan anak-anaknya memakan sarapannya dengan baik. Aku hanya ingin menjadi ibu, menjadi ibu yang sesungguhnya. Bukan ibu yang hanya mendengar kisah dan keluh kesah anaknya melalui video call.

Aku hanya ingin menjadi ibu, menjadi ibu yang sepenuhnya. Bukan ibu yang hanya bisa mengganti lima hari yang hilang dengan dua hari tak setimpal. Aku hanya ingin menjadi ibu, bolehkah? Di tahun ini aku ingin berhenti. Berhenti meninggalkan mereka bersama pengasuh. Berhenti jauh dari mereka. Berhenti menghabiskan waktu bersama hanya saat weekend. Bolehkah? Aku mengubah diriku menjadi ibu, ibu, hanya ibu. Karena kutahu genggam tangannya tak akan selamanya, tangis sendunya tak akan selamanya, peluk eratnya tak akan selamanya, dan tutur lugunya tak akan selamanya.

#GrowFearless with FIMELA