Dinamika politik China di balik kokohnya Xi Jinping bertakhta

Kongres Nasional Ke-20 Partai Komunis China (CPC) telah berlalu, namun dinamika sosial dan politik di negara berpenduduk terbanyak di dunia itu masih terus melaju.

Siaran televisi masih saja menayangkan seputar hasil kongres yang meneguhkan posisi Xi Jinping sebagai pemimpin tertinggi di tubuh partai penguasa tunggal itu hingga batas waktu yang tidak menentu.

Padahal kongres yang agenda utamanya sebenarnya terfokus pada perpanjangan masa jabatan Xi Jinping untuk periode 5 tahunan ketiganya, 2022-2027, secara resmi telah usai sejak Sabtu (22-10-2022).

Namun siaran hiburan, seperti sinetron, unjuk wicara (talk show), ajang pencarian bakat, dan film-film asing, masih belum tayang di sejumlah stasiun televisi.

Bukan berarti drama dan film tidak ada. Tetap ada, tapi temanya berkisar tentang perjuangan dan pembangunan. Persis seperti tayangan TVRI era Orde Baru dahulu kala.

Di luar China sana, orang-orang masih meributkan insiden meninggalkannya Hu Jintao dari arena Kongres Nasional ke-20 CPC di Balai Agung Rakyat, Beijing, beberapa menit sebelum rangkaian acara penutupan dimulai.

Beragam spekulasi muncul. Salah satu yang mengemuka adalah ketika Sekretaris Jenderal CPC periode 2002-2012 dan Presiden China 2003-2013 itu dipaksa meninggalkan ruangan sebelum acara penutupan berlangsung. Pemandangan ini tidak ada pada acara pembukaan pada Minggu (16-10). Ia hadir seperti biasa dan berjalan dipapah pengawal di belakang Xi Jinping.

Sebelum insiden itu terjadi dalam acara penutupan pada Sabtu (22/10), Hu yang duduk di sebelah kiri Xi Jinping terlibat perbincangan serius dengan Li Zhanshu, Ketua Kongres Nasional China (NPC) sekaligus anggota Komite Tetap Biro Politik ke-19 CPC.

Tidak jelas apa yang diperbincangkan atau diperdebatkan antara Hu dan juniornya itu.

Sejurus kemudian, politikus senior berusia 79 tahun yang dalam 10 tahun terakhir posisinya digantikan oleh Xi Jinping, baik di partai maupun di pemerintahan, tiba-tiba dipapah keluar panggung kehormatan oleh pengawal kepresidenan.

Beberapa awak media yang baru beberapa menit menempati lantai dua ruang pertemuan akbar tersebut merekam momen-momen yang sangat langka di acara kenegaraan tersebut. Namun tidak ada satu pun dari seribu lebih awak media yang memadati tribun lantai dua Balai Agung Rakyat pada Sabtu siang itu yang mengerti atau mendengarkan percakapan di antara para pentolan CPC tersebut.

Di tengah perdebatan antara Hu Jintao dan Li Zhanshu, Xi Jinping sempat memanggil pengawalnya. Tak lama kemudian, pengawal tersebut membantu Hu berdiri dari kursinya. Sebelum berjalan meninggalkan ruangan, Hu sempat berbicara dengan Xi dan Li Keqiang, Perdana Menteri sekaligus anggota Komite Tetap Biro Politik ke-19 CPC.

Beberapa saat kemudian, Xinhua, kantor berita resmi China yang bermarkas tidak jauh dari Balai Agung Rakyat di kawasan Tiananmen, menurunkan laporan yang mengonfirmasi Hu bahwa Hu sedang ada masalah dengan kesehatannya sehingga tidak bisa mengikuti seremonial penutupan.

Namun beragam spekulasi telanjur terbangun di luar arena Kongres. Salah satunya adalah Hu Jintao menentang keputusan partai yang menyetujui Xi Jinping menjabat Sekjen CPC atau pimpinan tertinggi untuk periode yang ketiga kalinya.

Menentang
Setelah Hu meninggalkan arena Kongres, Xi memulai rangkaian acara penutupan dengan kursi yang lowong di antara tempat duduknya dan tempat duduk Li Zhanshu.

Xi mengawalinya dengan meminta persetujuan sekitar 3.000 orang yang punya hak suara, termasuk 2.296 delegasi CPC dari berbagai daerah dan latar belakang, atas diterimanya perubahan Anggaran Dasar CPC.

"Dengan keputusan ini, apakah semuanya setuju?" tanya Xi yang diikuti aksi angkat tangan kanan dari seluruh hadirin kongres tersebut.

"Apakah ada yang tidak setuju?" tanya Xi.

"Meiyou..!" teriak para anggota Komite Tetap Biro Politik secara bersahut-sahutan yang berarti tidak ada yang tidak setuju.

Dengan diterimanya amandemen undang-undang partai tersebut, sah sudah bagi Xi Jinping meneruskan jabatan pemimpin tertinggi partai untuk ketiga kalinya itu hingga lima tahun mendatang.

Dengan begitu pula, maka tiket Presiden China untuk periode 2023-2028 sudah ada di genggaman politikus kelahiran Fuping, Provinsi Shaanxi, 69 tahun silam itu.

Mantan Gubernur Fujian beretnis Han, etnis mayoritas di China, itu juga sekaligus mempertahankan jabatan sebagai Panglima Komisi Militer Pusat untuk periode ketiganya.

Dua agenda lain juga tidak kalah penting dalam acara penutupan Kongres Nasional ke-20 tersebut, yakni diterimanya laporan pertanggungjawaban Komite Sentral ke-19 CPC dan penetapan anggota Komite Sentral ke-20 CPC dan anggota Komisi Pusat CPC untuk Pengawasan Disiplin ke-20.

Prosedurnya juga sama dengan agenda pertama. Xi sebagai presidium sidang meminta persetujuan di setiap agenda pembahasan sebelum diputuskan secara aklamasi.

Kongres yang berlangsung sejak 16 Oktober tersebut berakhir dengan tiga keputusan besar untuk 5 tahun mendatang tanpa hambatan yang berarti meskipun dalam memimpin sidang tersimpan ketegangan di gurat wajah Xi Jinping yang duduk bersebelahan dengan Li Keqiang.

Wajah Li Keqiang tidak seperti biasanya. Dalam kongres tersebut terlihat kaku sejak acara pembukaan di tempat yang sama.

Nama Li Keqiang yang selalu berada di peringkat kedua CPC sejak Kongres Nasional Ke-18 dan mendampingi Xi Jinping sejak 2012 sudah tidak ditemukan lagi dalam daftar 205 anggota Komite Sentral ke-20 CPC. Dengan demikian, maka politikus kelahiran Hefei, Provinsi Anhui, itu sudah tidak bisa lagi menduduki jabatan sebagai Perdana Menteri China mulai tahun depan.

Namun Li Keqiang tidak sendiri. Ada Li Zhanshu, Wang Yang, dan Han Zheng yang juga harus lengser dari jajaran pengurus tertinggi CPC itu. Ketiga nama jajaran elite Komite Sentral ke-19 CPC tersebut mulai tahun depan juga tidak lagi menduduki jabatannya masing-masing sebagai Ketua NPC, Ketua Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat China (CPPCC), dan Wakil Perdana Menteri.

Wajah Xi baru mulai terlihat berseri-seri pada keesokan harinya saat bertemu ratusan awak media di lantai tiga Balai Agung Rakyat. Wartawan ANTARA yang duduk di kursi terdepan yang berjarak sekitar 3 meter dari panggung utama dapat melihat dengan jelas senyum kepala negara berpenduduk 1,4 miliar jiwa itu saat berjalan beriringan dengan enam anggota Komite Tetap Biro Politik atau Politibiro yang baru sambil melambaikan tangan kepada awak media pada Minggu (23/10).

"Kemarin CPC telah berhasil merampungkan Kongres Nasional Ke-20. Hari ini Komite Sentral Ke-20 CPC telah melakukan rapat pleno pertama dan memilih kepemimpinan baru dan saya kembali terpilih sebagai Sekjen CPC," katanya mengawali sambutannya.

Lalu dia memperkenalkan enam anggota Komite Tetap Politbiro periode 2022-2027, yakni Li Qiang (63), Zhao Leji (65), Wang Huning (67), Cai Qi (66), Ding Xuexiang (60), dan Li Xi (66). Empat dari enam anggota Politbiro itu merupakan wajah baru.

"Kamerad Zhao Leji dan Kamerad Wang Huning tercatat sebagai anggota Komite Tetap Politbiro Komite Sentral ke-19 CPC. Mereka cukup familiar dengan Anda," ucap Xi lagi.

Tujuh anggota Politbiro dengan posisi Xi Jinping sebagai ketua tidak hanya bertanggung jawab kepada sekitar 93 juta anggota CPC, melainkan juga diharuskan mampu merealisasikan ambisi China sebagai negara sosialis modern pada masa-masa mendatang.

Tantangan ke depan yang bakal dihadapi para pemimpin baru itu tidaklah mudah. Apalagi dalam bidang ekonomi, pertumbuhan PDB tahun ini yang diperkirakan tidak lebih dari 4 persen, bakal menjadi persoalan sendiri bagi kepemimpinan baru nanti. Padahal pertumbuhan PDB tahun lalu yang mencapai 8 persen atau melampaui target sebesar 6 persen di tengah badai pandemi COVID-19 menjadikan China sebagai negara termakmur di dunia.

Meskipun rezim Xi Jinping makin menguat dan tidak terbendung, bukan berarti tidak ada tantangan dan hambatan dari dalam. Insiden keluarnya Hu Jintao dari arena kongres pada detik-detik menjelang acara penutupan pada Sabtu siang itu telah memberikan pesan yang tidak bagus bagi iklim demokrasi.

Apalagi pada 13 Oktober atau 3 hari menjelang Kongres Nasional Ke-20 CPC digelar telah terjadi unjuk rasa di Jembatan Sitong, Beijing. Slogan protes serupa kemudian muncul dalam bentuk grafiti di kota-kota lain di China. Hal ini setidaknya menjadi perwujudan pertentangan terhadap kepemimpinan Xi.

Dunia internasional, termasuk Dana Moneter Dunia (IMF), juga mempersalahkan China atas melambatnya pertumbuhan ekonomi tahun ini sebagai akibat dari penerapan kebijakan nol kasus COVID-19 yang sangat ketat sehingga beberapa kali kota-kota di China, termasuk Shanghai dan Beijing sebagai pusat ekonomi utama, sempat dikunci wilayah atau lockdown dalam jangka waktu yang relatif lama dan sering sejak Januari lalu.

"Kami akan membuka pintu lebih lebar lagi. Kemakmuran China akan menciptakan lebih banyak kesempatan bagi dunia," janji Xi pada Minggu (23-10) saat untuk kali pertama bertemu dengan awak media asing dalam 5 tahun terakhir.






Editor: Achmad Zaenal M