Dinas Rahasia AS: Banyak serangan senjata di sekolah dapat dicegah

(Reuters) - Banyak serangan di sekolah negeri di Amerika Serikat dapat dicegah dengan mengidentifikasi siswa yang menjadi sumber kekhawatiran, kata Dinas Rahasia AS pada Kamis (7/11) dalam sebuah laporan yang menyebutkan bahwa penyerang secara rutin menunjukkan perilaku bermasalah yang harus dilaporkan.

Penelitian tersebut, yang berfokus tidak hanya pada penembakan massal tetapi tindakan kekerasan bertarget lainnya seperti serangan pisau, mendorong penelitian sebelumnya tentang tanda-tanda peringatan yang sering diperlihatkan siswa sebelum melakukan kekerasan mematikan di sekolah mereka.

Dinas Rahasia itu, yang tugas utamanya adalah melindungi presiden AS dan pejabat terpilih lainnya, telah menganalisis kekerasan sekolah sejak penembakan massal tahun 1999 di SMA Columbine di Colorado. Laporan terbarunya fokus pada periode antara 2008 dan 2017.

Laporan itu tidak termasuk penembakan di SMA yang paling mematikan dalam sejarah AS, yaitu pembunuhan 17 orang di SMA Stoneman Douglas di Parkland, Florida, yang dilakukan seorang pria bersenjata pada 14 Februari 2018.

Badan itu menemukan bahwa, dalam 41 insiden kekerasan sekolah yang ditargetkan di sekolah-sekolah dengan siswa usia taman kanak-kanak hingga kelas dua belas, semua penyerang mengalami semacam tekanan sosial dalam hubungan mereka dengan teman sebaya atau pasangan romantis mereka dan hampir semua memiliki pengalaman negatif terkait kehidupannya di rumah.

Kebanyakan penyerang memiliki banyak motif, menurut laporan itu, dan yang paling umum melibatkan masalah dengan teman sekelasnya. Untuk 83% penyerang, itu setidaknya menjadi bagian dari motivasi mereka dan untuk 61% dari mereka itu menjadi pendorong utama.

Dinas Rahasia secara rutin menggunakan "model penilaian ancaman" untuk mengidentifikasi orang-orang dengan niat yang mengancam keamanan presiden Amerika. Badan tersebut merekomendasikan sekolah mengadopsi pendekatan serupa untuk mencegah kekerasan massal.

Banyak sekolah umum dan perguruan tinggi, pada tahun-tahun sejak penembakan Columbine dan pembunuhan 32 orang di Virginia Tech pada 2007 oleh seorang pria bersenjata, telah menggunakan apa yang disebut tim intervensi perilaku untuk mengidentifikasi siswa yang bermasalah.

Dalam 41 serangan yang dipelajari oleh Dinas Rahasia, yang semuanya melibatkan seorang siswa atau mantan siswa sebagai pelaku, tersangka menggunakan senjata api di 61% dari insiden itu, dan sisanya menggunakan senjata tajam.

Perilaku bermasalah penyerang termasuk mengomunikasikan ancaman ke target utama mereka atau mengatakan mereka ingin melakukan kekerasan, seperti dengan membuat pesan video.

Dalam banyak kasus, seseorang mengamati perilaku ini tetapi tidak melaporkannya ke pihak berwenang, menurut laporan itu.