Dinkes DKI imbau masyarakat tunda dulu pemberian obat cair pada anak

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta Dwi Oktavia mengimbau masyarakat untuk menunda sementara waktu pemberian obat sirop atau tetes (drop) pada anak untuk mencegah gangguan ginjal akut progresif atipikal.

“Jadi kami menghargai proses yang sedang berjalan, pemeriksaan yang dilakukan oleh BPOM dan Kemenkes, sehingga kami mendukung agar masyarakat bisa mendapat informasi juga yang sederhana, intinya adalah tunda dulu pemberian obat cair dan tetes,” katanya saat acara Media Workshop “Kenali Gagal Ginjal Akut” di Prodia Tower, Jakarta, Selasa.

Pada Sabtu (5/8), Dinkes DKI melalui unggahan di halaman Instagramnya telah mengimbau orang tua untuk sementara waktu jangan memberikan obat sirop atau cair kepada anak yang sakit. Obat tersebut termasuk obat yang baru dibeli maupun yang saat ini masih tersimpan di rumah (persediaan di rumah).

Pada 18 Oktober, Kemenkes juga telah mengumumkan sebanyak 156 produk obat sirop bisa kembali diresepkan dan beredar di pasaran setelah dipastikan bebas dari senyawa berbahaya.

Terkait hal tersebut, Dwi menegaskan sikap yang dikeluarkan Dinkes DKI terkait larangan pemberian semua obat cair pada intinya mendukung kebijakan pemerintah pusat dan menjaga supaya masyarakat benar-benar aman dalam konsumsi obat.

Baca juga: Dinkes DKI awasi 69 merek obat sirop setelah izin edar dicabut

Dia mengatakan larangan konsumsi obat cair dilakukan setidaknya hingga Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kemenkes merilis penjelasan lebih lanjut terkait perkembangan hasil kajian obat.

“Sebelum ada statement lebih jauh lagi maka tetap hendaknya kita berhati-hati dalam menggunakan obat-obat sirop dan tetes, ya, jadi sebisa mungkin untuk tidak menggunakannya dulu,” katanya.

Selain menghindari penggunaan obat sirop maupun tetes, Dwi juga mengimbau orang tua sebisa mungkin menjaga kondisi kesehatan anak sehingga tidak sampai meminum obat.

Menurut dia, masih terdapat pilihan obat alternatif yang dapat digunakan seperti tablet dan puyer di samping tetap berhati-hati dalam penetapan dosis yang harus melalui resep dokter.

“Kalau memang anaknya sakit, contohnya dengan demam, maka kompres dan sebagainya, dan alihkan jenis obat yang diberikan tidak bentuk sirop tapi bentuk lain. Kemudian sambil memantau buang air kecilnya,” katanya.

Selain melalui sarana media sosial, pihaknya juga berupaya untuk sosialisasi pengetahuan seputar gangguan ginjal akut kepada masyarakat di akar rumput melalui para kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di DKI Jakarta.

“Kenapa kader kami undang khusus waktu itu karena kader itu punya, kalau pada Dasa Wisma di Jakarta, mereka sebenarnya punya kemampuan satu kader menjangkau 10-20 rumah tangga. Jadi salah satu cara yang paling efektif di Jakarta untuk menjangkau masyarakat secara luas,” katanya.

Baca juga: BPOM cabut izin CPOB tiga perusahaan farmasi terkait cemaran EG/DEG
Baca juga: Reisa: Vaksin COVID-19 bukan penyebab gagal ginjal akut pada anak
Baca juga: Obat puyer tambah madu solusi agar anak mau mengonsumsi obat