Dinkes DKI: Masalah kesehatan jiwa harus dideteksi sejak dini

Plt Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular, Kesehatan Jiwa dan NAPZA Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dr. Ngabila Salama mengatakan bahwa masalah kesehatan jiwa harus dideteksi sejak dini agar kondisinya tidak semakin memburuk.

"Kesehatan jiwa ini kan kadang-kadang enggak terlihat, jadi harus aktif untuk mendeteksi. Akan sangat sedih jika gangguan jiwa ini terdeteksi dalam stadium lanjut atau sudah masuk ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa). Sebelum sampai ke yang berat, yang ringan ini harus kita deteksi secara dini," kata Ngabila dalam peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang digelar daring oleh Puskesmas Ciracas Jakarta Timur, diikuti di Jakarta, Jumat.

Ia menjelaskan bahwa untuk menyadarkan tentang pentingnya deteksi dini kesehatan jiwa, maka butuh kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan terutama dalam melakukan promosi yang kreatif dan masif.

"Jadi kita harus lebih sering kampanye bahwa ketika orang atau anak sudah ada gangguan ringan misalnya cepat lelah, kehilangan minat, malas berangkat ke kantor, malas sekolah, berdebar-debar, sulit tidur, gejala awal ini harus didiagnosis segera, bawa ke ahlinya, obati segera. Jangan sampai terlambat, jangan sampai jadi gangguan berat," tuturnya.

Guna membantu deteksi dini terkait kesehatan jiwa, Ngabila mengatakan bahwa Dinkes DKI Jakarta memiliki layanan E-Jiwa dan Sahabat Jiwa yang telah terintegrasi dengan aplikasi Jakarta Kini (JAKI).

Baca juga: Dokter jiwa ajak hindari lingkungan toksik demi kesehatan mental

Baca juga: Dokter sebut makan seimbang hingga olahraga bantu jaga kesehatan jiwa

Bagi masyarakat yang sudah berusia dewasa, kata dia, dapat melakukan skrining menggunakan layanan E-Jiwa. Pada layanan tersebut, masyarakat harus menjawab beberapa pertanyaan dengan sejujur-jujurnya.

Jika hasil skrining mengindikasikan adanya gangguan, Ngabila mengatakan masyarakat bisa berkonsultasi secara daring dengan psikolog klinis melalui Sahabat Jiwa.

"Para psikolog klinis kita di puskesmas siap membantu," imbuhnya.

Ngabila mengatakan bahwa saat ini, ada 23 puskesmas di kecamatan yang sudah memiliki layanan psikologis. Ke depannya, ia berharap layanan tersebut juga tersedia di setiap puskesmas di DKI Jakarta.

"Kami sedang membuat edaran untuk penguatan agar 44 kecamatan semuanya punya psikolog klinis.Dan kepala puskesmas membuat SK tim untuk menjadi konselor kesehatan jiwa. Jadi nanti saling ToT (Training of Trainer), bikin pelatihan, workshop, agar ada 5-10 nama tim kesehatan, bisa dokter, perawat, psikolog, sehingga kita semua bahu membahu," katanya.

"Kami sedang mengembangkan juga (E-Jiwa) untuk usia anak, dengan metode yang mungkin beberapa puskesmas sudah pakai juga," ujar Ngabila.

Baca juga: BPJS Kesehatan pertimbangkan rawat pasien lukai diri sendiri

Baca juga: Psikiater: Gangguan jiwa bukan tanda lemah iman