Dinkes Kota Solok bentuk tim audit percepat penurunan angka stunting

Pemerintah Kota (Pemkot) Solok melalui Dinas Kesehatan Kota Solok membentuk tim audit stunting daerah yang bertujuan untuk mempercepat penurunan angka stunting di Kota Beras Serambi Madinah itu.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Kota Solok Hartini di Solok, Senin mengatakan berdasarkan data dan informasi dari Puskesmas yang ditemukan kasus stunting balita dan ibu hamil Kekurangan Energi Kronis (KEK) di Kota Solok.

Ia menjelaskan, tim audit melakukan kunjungan lapangan ke beberapa tempat sasaran untuk melakukan konfirmasi, koordinasi serta verifikasi lapangan terhadap sasaran anak yang stunting (kekerdilan).

Baca juga: BKKBN: SDM dan pengetahuan keluarga tantangan turunkan stunting

Baca juga: Bayi prematur sumbang stunting terbesar jika penanganan tak tepat

Berdasarkan hasil kunjungan lapangan tim audit menyusun laporan pelaksanaan di lapangan untuk audit kasus stunting oleh tim pakar yang terdiri atas Dokter Spesialis Anak, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Psikolog dan ahli gizi dari Dinas Kesehatan.

Menurut dia, kedatangan tim audit stunting itu untuk memberikan edukasi kepada kedua orang tua guna adanya perubahan status gizi sang balita seperti menanyakan kecukupan asupan gizi, lingkungan sekitar rumah, dan kepatuhan si ibu membawa anak ke Posyandu.

Lebih lanjut, hasil yang diharapkan ialah adanya perubahan status gizi anak yang mengalami stunting menjadi lebih baik dan intervensi dari tim audit stunting sendiri yaitu memperhatikan makanan si bayi selama enam bulan bersama lintas OPD untuk mengatasi stunting.

Baca juga: BKKBN dan Danone luncurkan ILM "Cegah Stunting Itu Penting"
Baca juga: BKKBN: Target penurunan prevalensi stunting sesuai RPJMN 2020-2024

Di samping itu, dalam rangka mewujudkan Kota Solok bebas dari stunting, Dinkes Kota Solok juga memberikan edukasi dan keterampilan kepada kader dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi dan anak.

"Gizi seimbang sangat penting agar anak memiliki tumbuh kembang yang optimal, baik itu perkembangan fisik maupun kecerdasan anak," katanya.

​​​​​​Menurut Hartini peran kader sangat penting dalam dunia kesehatan, khususnya kolaborasi antara tenaga kesehatan dengan kader dalam mengedukasi masyarakat.

“Tanpa peran kader saya rasa nakes cukup kewalahan dalam mencapai tujuan untuk mencapai program Indonesia sehat, yang salah satunya dalam peningkatan status gizi bayi dan anak,” ucap dia.

Baca juga: Wagub Sumbar: Edukasi gizi lebih dibutuhkan dalam mengatasi stunting

Baca juga: Gubernur Sumbar: Semua pihak harus terlibat turunkan angka stunting

Baca juga: Gubernur Sumbar ajak konsumsi makan ikan untuk cegah stunting

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel