Dinkes: Warga Bandung jangan euforia guna cegah lonjakan COVID-19

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung, Jawa Barat mengajak warga kota itu untuk tidak berperilaku euforia guna mencegah lonjakan kasus COVID-19 karena pandemi belum usai.

Kepala Dinkes Kota Bandung, Anhar Hadian di Bandung, Kamis mengatakan pada November menjelang akhir tahun 2022 ini kasus COVID-19 di Kota Bandung mengalami kenaikan. Sehingga menurutnya upaya pencegahan perlu dilakukan secara maksimal.

"Euforia masyarakat untuk kembali ke perilaku dahulu (sebelum pandemi COVID-1) sudah terlihat," katanya.

Melalui upaya kolaborasi dengan sejumlah pihak, menurutnya, berbagai tantangan kesehatan bisa terselesaikan.

Untuk itu, kata dia, program prioritas Dinkes Kota Bandung saat ini adalah akselerasi penanganan dan vaksinasi COVID-19 kepada masyarakat.

Ia mengatakan proses percepatan vaksinasi cukup menjadi tantangan bagi pihaknya. Karena saat stok vaksin COVID-19 menipis, menurutnya banyak warga yang protes karena ingin mengikuti vaksinasi.

Namun ketika stok vaksin mulai kembali melimpah, menurut Anhar Hadian, pertambahan persentase masyarakat yang telah mengikuti vaksinasi itu tidak signifikan.

Sementara itu, Wali Kota Bandung Yana Mulyana meminta kepada Anhar selaku Kepala Dinkes Kota Bandung yang baru bisa berada di barisan terdepan dalam menangani berbagai tantangan di tengah masyarakat.

"Kita juga terpengaruh pandemi COVID-19 dengan segala dampaknya. Bahkan, terancam resesi global," kata Yana.

Saat ini, kasus aktif COVID-19 berada di angka 1.124 orang. Padahal pada 1 November 2022, kasus aktif COVID-19 masih berada di angka 625 orang.

Kini pertambahan kasus harian pun melebihi 100 kasus bahkan hampir mencapai 200 kasus. Sedangkan di awal November 2022, pertambahan kasus harian masih berada di bawah 100 kasus.

Baca juga: Satu pasien XBB ditemukan di Bandung, Dinkes: kondisinya sudah sehat

Baca juga: Wali Kota ingin IndoVac penuhi kebutuhan vaksin COVID-19 di Bandung

Baca juga: Satgas sebut kasus COVID-19 di Kota Bandung semakin terkendali

Baca juga: Kemenkes: 407 mahasiswa idap HIV di Bandung akumulasi selama 31 tahun