Dinyatakan Meninggal, Pasien Corona di Ekuador Ternyata Masih Hidup

Ezra Sihite, BBC Indonesia

 

Angka kematian di Guayas melonjak hingga lima kali lipat dalam 15 hari.

 

Seorang perempuan Ekuador berusia 74 tahun telah dinyatakan meninggal dunia akibat Covid-19. Keluarganya bahkan sudah mendapat kiriman abu jenazahnya. Namun, yang bersangkutan ternyata ditemukan masih hidup.

Peristiwa ini terjadi di Kota Guayaquil, pusat penyebaran Covid-19 di Ekuador.

Ekuador mengalami dampak yang parah dengan lebih dari 22.000 kasus dan hampir 600 orang dilaporkan meninggal dunia.

 

 

Kisah bermula ketika Alba Maruri dimasukkan ke rumah sakit bulan lalu dengan kondisi demam tinggi dan kesulitan bernapas, sebagaimana dilaporkan harian setempat, El Comercio.

https://twitter.com/lahistoriaec/status/1253837617277386754

Pada 27 Maret, keluarganya mendapat informasi bahwa dia telah meninggal dunia. Mereka ditunjukkan sesosok mayat di kamar jenazah rumah sakit, namun mereka harus melihat dari jauh karena risiko penularan Covid-19.

Keponakan Maruri, Jaime Morla, mengatakan kepada para pegawai rumah sakit bahwa dirinya mengira jasad itu adalah tantenya.

"Saya takut melihat wajahnya. Posisi saya satu setengah meter [dari jenazah]. Rambutnya sama, warna kulitnya sama," kata Morla kepada kantor berita AFP.

Jenazah itu kemudian dibawa untuk dikremasi dan abunya dikirim ke keluarga Maruri.

 

Jenazah yang dibiarkan tergeletak di pinggir jalan di Guayaquil, kota terbesar di Ekuador.

 

Pada Kamis (23/04), Maruri bangun dari koma. Dia mengatakan namanya kepada para dokter yang takjub. Dia bahkan mampu menyebutkan nomor telepon rumahnya dan meminta tim dokter menghubungi adik perempuannya, Aura, untuk datang menjemput.

Keluarganya luar biasa gembira akan berita ini, namun mereka masih bertanya-tanya abu jenazah siapa yang dikirimkan kepada mereka.

"Ini mukjizat. Selama hampir sebulan kami mengira dia meninggal. Bayangkan. Dan saya punya abu jenazah milik orang lain," kata Aura.

Satu tim dari rumah sakit kemudian mendatangi rumah keluarga Maruri untuk meminta maaf, seperti dilaporkan El Comercio. Mereka beralasan rumah sakit saat itu dalam kondisi kisruh karena banyaknya jumlah pasien Covid-19 dan kematian akibat virus tersebut.

Pihak keluarga mengatakan mereka ingin pihak berwenang memberikan kompensasi dan uang pengganti proses kremasi.

Maruri juga harus membeli kasur baru karena kasur lama sudah dibuang keluarganya.