Diperiksa 6 Jam, Polisi Sebut Wartawan Edy Mulyadi Tak Kooperatif

Ezra Sihite, Ahmad Farhan Faris
·Bacaan 2 menit

VIVA – Tim penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri telah meminta keterangan terhadap wartawan Edy Mulyadi di Gedung Bareskrim pada Kamis, 17 Desember 2020. Namun, Edy dianggap tidak kooperatif.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Andi Rian Djajadi, mengatakan saksi Edy Mulyadi tidak mau memberikan keterangan kepada penyidik karena menyangkut peraturan tentang pers.

“Kemarin Saudara EM menolak diperiksa karena menyangkut UU Pers Nomor 40 tahun 1999,” kata Andi di Jakarta pada Jumat, 18 Desember 2020.

Sementara itu, Kepala Subdit 3 Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Kombes John W Hutagalung, mengatakan Edy Mulyadi menjalani pemeriksaan penyidik sekitar 6 jam dimulai pukul 14.00 WIB sampai pukul 20.00 WIB.

“Yang bersangkutan tidak kooperatif dalam menjawab pertanyaan penyidik,” kata John.

Menurut John, Edy Mulyadi dipanggil sebagai saksi untuk dimintai keterangannya terkait laporan polisi nomor LP/134/2020/PMJ kasus dugaan penyerangan kepada petugas di Tol Cikampek hingga berujung penembakan terhadap 6 laskar FPI.

“Yang bersangkutan bukan sebagai pelaku dalam case ini, hanya sebagai saksi biasa. Karena ada keterangan saksi R di TKP bahwa yang bersangkutan memiliki informasi terkait TKP Cikampek 50,” kata dia.

Sebelumnya diberitakan, beredar surat pemanggilan pemeriksaan terhadap wartawan bernama Edy Mulyadi sebagai saksi oleh penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri pada Senin, 14 Desember 2020.

Surat pemeriksaan tersebut beredar di media sosial Twitter, bahwa Edy Mulyadi disebut wartawan yang melakukan investigasi sendiri atas kasus penembakan terhadap enam orang Laskar Front Pembela Islam (FPI) di Kilometer 50 Tol Jakarta-Cikampek yang terjadi pada Senin dini hari, 7 Desember 2020.

Dalam surat panggilan tersebut, Edy Mulyadi diminta untuk menemui penyidik di Kantor Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim, Gedung Awaloedin Djamin Bareskrim lantai 4, Jalan Trunojoyo pada Senin, 14 Desember 2020, pukul 13.00 WIB.

Edy dipanggil untuk dimintai keterangan sebagai saksi dalam dugaan tindak pidana di muka umum secara bersama-sama melakukan kekerasan terhadap orang atau barang juncto tindak pidana kepemilikan senjata api dan senjata tajam tanpa izin dan/atau melawan petugas.

Hal tersebut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 170 KUHP juncto Pasal 1 Ayat (1) dan Ayat (2) Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951, dan/atau Pasal 214 KUHP dan/atau Pasal 216 KUHP.

Sementara, Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Andi Rian Djajadi, membantah kalau pemeriksaan terhadap Edy Mulyadi karena yang bersangkutan disebut-sebut melakukan investigasi sendiri kasus penembakan laskar FPI di Kilometer 50 Tol Jakarta-Cikampek.

"Bukan. Karena ada saksi yang menyebutkan namanya dan menyatakan bahwa Edy sepertinya tahu banyak tentang peristiwa, tentu ini perlu digali oleh penyidik," ujarnya. (ase)