Dipimpin Erick Thohir, Bagaimana Kinerja BUMN Saat Ini?

Liputan6.com, Jakarta Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir dikenal sebagai Menteri dengan segala gebrakan, mulai dari copot direksi, pangkas komisaris hingga menghapus BUMN 'mati suri'.

Dengan segala langkah beraninya, apakah BUMN saat ini sudah memiliki kinerja yang baik dan sesuai dengan visi dan misi Presiden Joko Widodo?

Tenaga Ahli Utama Kepresidenan Kantor Staf Kepresidenan RI Dany Amrul Ichdan menyatakan, sebenarnya terlalu dini untuk menilai kinerja BUMN karena hal itu harus dibuktikan dengan data yang terukur.

"Kinerja BUMN itu harus berbasis pada evidence yang terukur, sehingga baru bisa terlihat pada laporan tahunan masing-masing kinerja BUMN yang audited. Terlalu dini menyimpulkan tentang kinerja operasional apalagi keuangan," jelas Dany saat dihubungi Liputan6.com, Senin (15/6/2020).

Kendati, Dany mengapresiasi langkah Erick Thohir dalam mempercepat restrukturisasi BUMN termasuk penyederhanaan struktur organisasi baik di Kementerian BUMN maupun di BUMN itu sendiri. Dany bilang, langkah ini sejalan dengan visi dan misi Presiden Joko Widodo.

"Salah satu visi Presiden adalah reformasi birokrasi, dan penyederhanaan struktur organisasi, restrukturisasi proses bisnis, semangat memperkuat tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance) merupakan contoh dari upaya mengejawantahkan visi misi Presiden," jelasnya.

Adapun, pemilihan direksi dan komisaris yang diputuskan oleh Erick Thohir juga merupakan kewenangan Kementerian BUMN untuk meningkatkan kinerja dan kepentingan yang lebih besar untuk kemajuan BUMN dan para pemangku kepentingan.

"Marilah kita berpikir positif dahulu terhadap hal ini dan sama-sama lihat kinerjanya dalam beberapa bulan kedepan," tutupnya.

Erick Tohir Pangkas Pengelompokan BUMN Jadi 12 Klaster

Menteri BUMN, Erick Thohir (kiri) bersama Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo (kanan) mengikuti rapat dengan Komisi VI DPR, di kompleks Parlemen, Senin (2/12/2019). Rapat membahas Penyertaan Modal Negara (PMN) pada Badan Usaha Milik Negera tahun anggaran 2019 dan 2020. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, Kementerian BUMN telah menyelesaikan penyusunan klasterisasi BUMN berdasarkan value chain care business BUMN. Dimana total klasterisasi menjadi 12 klaster dari semula sebanyak 27 klaster, dengan masing-masing Wakil Menteri (Wamen) membawahi 6 kluster.

"Kita juga memberanikan diri, dari 27 kluster ini sekarang tinggal 12," kata Menteri BUMN, Erick Tohir dalam Ngobrol Seru - New Normal or The Great Reset: Life After Pandemic COVID-19⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣ IDN Times, Sabtu (13/6/2020).

"Tetapi antara Wamen 1 dan Wamen 2 itu juga dijaga supply chain-nya," sambung Erick.

Erick menyebutkan pengelompokan kluster di Wamen 1 yang terdiri dari Migas dan Energi, Minerba, Perkebunan dan KEhutanan, Pupuk dan Pangan, Farmasi dan Kesehatan, serta Pertahanan, Manufaktur dan Industri lainnya, memiliki keterkaitan satu sama lain.

"Contoh klau kita lihat di Wamen 1, disitu ada pupuk dan pangan, yang tadinya perkebunan dan perhutanan di Wamen 2 saya pindah ke Wamen 1, karena ini ekositem, dimana perkebunan, pupuk, dan pangan ini menjadi satu kesatuan strategi," kata Erick.

Kemudian, hasil perkebunan dan perhutanan dapat bermanfaat selain sebagai pangan, juga sebagai farmasi atau herbal.

Sementara dari kluster manufaktur dapat berkaitan dengan produksi alat kesehatan atau alat penunjang produksi di kluster lainnya

"Lalu disambungkan lagi dengan manufaktur, itu juga ada hubungannya dengan alat kesehatan. Nah ini kita coba supaya supply chain-nya terjaga," jelas Erick.

Hal ini juga berlaku untuk klaster yang dibawahi Wamen 2, meliputi Jasa Keuangan, Jasa asuransi dan Dana Pensiun, Telekomunikasi dan Media, Pembangunan dan Infrastruktur; Pariwisata, Logistik dan lainnya, serta Sarana dan prasarana Perhubungan.

Saksikan video pilihan berikut ini: