Dipimpin Wanita, Selandia Baru Berhasil Menekan Kasus COVID-19

Syahdan Nurdin, ghinasamarah

VIVA – Saat ini dunia digemparkan oleh munculnya virus baru yang kini telah banyak menginfeksi manusia. Virus itu dikenal dengan nama Covid-19 dan telah dinyatakan sebagai pandemi global oleh WHO pada 11 Maret 2020.

Keberadaan pandemi tersebut menjadi ujian bagi para pemimpin dunia saat ini,  Mereka harus memikirkan berbagai strategi guna menekan penyebaran Covid -19 yang mana strategi tersebut menjadi penilaian baginya oleh masyarakat. Wabah Covid-19 rupanya telah menunjukkan potret pemimpin dunia dengan berbagai gaya kepemimpinannya, khususnya para pemimpin dunia yang berjenis kelamin perempuan.

Dalam menghadapi wabah Covid-19, sejumlah negara yang pemerintahannya dipimpin oleh perempuan telah berhasil menekan angka kematian akibat Covid-19, seperti Selandia Baru, Jerman, Taiwan, dan Norwegia. Keberadaan para pemimpin perempuan di berbagai negara telah memberikan gambaran bagi para pemimpin lainnya bahwa perempuan memiliki peluang yang setara untuk memilih posisi sebagai pemimpin. 

Gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh para pemimpin wanita di seluruh dunia dinilai berhasil dan memberikan kemajuan yang baik dalam menekan virus Covid-19.

Menurut majalah terkenal di Amerika Serikat The Atlantic, kepala pemerintahan yang efektif saat ini dalam menangani Covid-19 adalah Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern. 

Selandia Baru menjadi salah satu negara yang mengklaim sudah berhasil menekan penularan Covid-19. Keberhasilannya ditunjukkan dengan berkurangnya jumlah kasus baru Covid-19 yaitu hanya terdapat satu kasus baru dalam 24 jam terakhir.

Berkurangnya kasus baru Covid-19 membawa Selandia Baru untuk mencabut penguncian wilayah atau lockdown secara bertahap. Mulai hari selasa (28/04) sejumlah kegiatan ekonomi dan pendidikan dapat dibuka kembali. 

Namun demikian, Perdana Menteri Jacinda Ardern tetap memperingatkan untuk tidak berpuas diri dan menghindari pertemuan massal. Hal ini dilakukan untuk menjaga angka infeksi setelah lockdown dilonggarkan. 

Keberhasilan Selandia Baru dalam menekan kasus penyebaran Covid-19 tentu tidak terlepas dari kepemimpinan Perdana Menteri Jacinda Ardern sebagai pengendali utama dalam berbagai permasalahan yang menyangkut kepentingan publik.

Kehadiran Jacinda Ardern juga telah mengangkat derajat wanita dalam jajaran pemimpin-pemimpin di dunia. Lantas bagaimanakah gaya kepemimpinan Perdana Menteri Jacina Ardern dalam menekan kasus penyebaran Covid-19?

Kelembutan yang identik dengan wanita tentu bukan menjadi penghalang untuk berani mengambil keputusan dengan tegas dan cepat. Hal itulah yang dilakukan oleh Jacinda Ardern, yaitu mengambil keputusan dengan tegas dan cepat berupa penguncian total (lockdown) dan menutup semua akses perbatasannya sejak 23 Maret 2020. 

Jacinda Ardern juga tidak segan untuk memberikan denda atau mengeluarkan seseorang dari negaranya apabila tidak mematuhi keputusan yang diambil. Hal itu ia lakukan untuk membantu menghilangkan dampak terburuk dari virus tersebut, apalagi Selandia Baru tidak memiliki cukup banyak fasilitas perawatan intensif. 

Kepemimpinannya dalam memerangi Covid-19, tidak terlepas pula dari strategi komunikasi yang diterapkan. Komunikasi menjadi hal yang penting karena menjembatani maksud dan tujuan pemimpin.

Sederhananya, komunikasi mentranmisikan sinyal yang dapat memotivasi masyarakat. Komunikasi yang digunakan oleh Jacinda Ardern menekankan pada pengarahan, empati, dan pembangunan makna. Pengarahan yang diberikan oleh Ardern selalu menyerukan kepada rakyatnya untuk stay home, save live. Seruan tersebut ia lakukan melalui live Facebook dengan selalu tersenyum dan santai sehingga mengurangi kecemasan masyarakat terhadap wabah yang kini menjadi perhatian dunia.

Ia juga kerap berbagi kegiatan sehari-harinya di media sosial Facebook. Komunikasi melalui live Facebook itu ia lakukan secara teratur untuk memberikan keyakinan dan kebersamaan dalam masyarakat.

Tak lupa pula, komunikasi yang ia lakukan menekankan pada rasa empati, seperti mendesak warga Selandia Baru untuk menjaga tetangga mereka, merawat yang rentan, dan lain sebagainya.

Adanya komunikasi yang dilakukan secara empati dan ekspresi tersenyum tersebut tentu memberikan suatu makna untuk mengurangi kecemasan bagi masyarakat sehingga emosional mereka tetap terjaga.

Selain itu, komunikasi yang menunjukkan empati telah membuat masyarakat menjadi percaya dan patuh untuk melakukan apa yang dilakukan, misalnya isolasi diri. Dilansir dari majalah Inggris The Guardian, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan Ardern lebih besar dari 80%.

Hasil tersebut menandakan bahwa komunikasi yang empati telah menunjukkan kepedulian terhadap situasi dan memahami apa yang sedang terjadi. Gaya komunikasi Jacinda Ardern memberikan suatu pelajaran bahwa efektivitas pemimpin dapat berhasil dengan menunjukkan rasa empati dan memahami bagaimana komunikasi tersebut disampaikan. Apabila keterampilan komunikasi ini tidak dimiliki, maka kecemasan dan ketakutan akan terjadi sehingga sulit bagi mereka untuk memproses informasi.

Perdana Menteri Jacinda Ardern juga menggunakan berbagai taktik kepemimpinan dalam menekan kasus penyebaran Covid-19. Taktik kepemimpinan bergantung pada potensi ataupun keterampilan yang dimiliki oleh seorang pemimpin.

Strategi komunikasi yang digunakan oleh Jacinda Ardern menandakan ia memiliki keterampilan interpersonal yang tinggi. Oleh karena itu, taktik yang digunakan adalah impression management. Taktik ini dianggap efektif bagi seseorang yang memiliki keterampilan interpersonal serta digunakan untuk persitiwa yang tidak terduga.

Taktik ini dimaksudkan untuk memengaruhi orang lain dengan memberikan penilaian baik terhadapnya.

Dalam hal ini, Ardern menyatakan bahwa dirinya dan kabinetnya akan melakukan pemotongan gaji sebesar 20 persen selama enam bulan ke depan. Keputusan itu memberikan kesan yang baik di mata masyarakat Selandia Baru. Hal itu dikarenakan keputusan yang diambil menjadi pengakuan atas kesulitan yang dirasakan warga Selandia Baru dan bentuk solidaritas selama pandemi virus Covid-19. 

Dalam situasi seperti saat ini, kepemimpinan menjadi faktor keberhasilan dalam menekan kasus Covid-19. Bukanlah perkara mudah bagi setiap pemimpin untuk menerapkan berbagai teori kepemimpinan dalam mengatasi masalah yang sedang dihadapi.

Setiap pemimpin memiliki potensi kepemimpinan yang berbeda, yang apabila diasah dan dikembangkan, maka akan menunjukkan sosok kepemimpinan yang efektif.

Berkaitan dengan strategi yang diambil oleh Jacinda Ardern, maka kepemimpinan yang dilakukan berdasarkan pada kemampuan yang dimilikinya, yaitu interpersonal yang tinggi.

Apalagi, Jacinda Ardern pernah menamatkan pendidikan tinggi di jurusan komunikasi politik. Dengan kemampuan yang dimilikinya, tentu akan membantu seorang pemimpin dalam mengemban amanahnya, baik itu dalam menentukan arah maupun sebagai agen perubahan.

Perlu disadari juga, seorang pemimpin tidak boleh merasa one man show atau melakukan semuanya dengan sendiri. Sangat mustahil semua yang dilakukan untuk memberantas Covid-19 akan berjalan dengan baik tanpa adanya dukungan dari masyarakat.

Oleh karena itu, pemimpin juga memiliki tanggung jawab untuk meyakinkan kepada masyarakat bahwa kita dapat melakukan itu semua dengan saling bahu membahu. Kita sebagai masyarakat juga harus mengikuti segala anjuran yang telah diputuskan karena semua itu semata-mata agar masyarakatnya sehat dan terbebas dari virus Covid-19.