Diplomat China untuk PBB: Situasi di Myanmar Bisa Picu Perang Saudara

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Yangon - Duta Besar China untuk PBB mendesak upaya diplomatik yang lebih kuat untuk menyelesaikan konfrontasi di Myanmar sejak kudeta militer 1 Februari.

Ia memperingatkan bahwa kekerasan lebih lanjut dapat menyebabkan situasi kacau dan bahkan perang saudara, demikian dikutip dari laman AP, Rabu (5/5/2021).

Zhang Jun juga memperingatkan bahwa "penanganan yang salah" dapat menyebabkan ketegangan lebih lanjut di Myanmar.

Sebelumnya Dewan Keamanan PBB pada Jumat 30 April sangat mendukung seruan negara-negara Asia Tenggara untuk segera menghentikan kekerasan dan dialog sebagai langkah pertama menuju solusi, menyusul kudeta militer di Myanmar yang menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi.

Dewan ASEAN menuntut pemulihan demokrasi dan pembebasan semua tahanan termasuk Suu Kyi dan mengutuk penggunaan kekerasan terhadap pengunjuk rasa damai dan kematian ratusan warga sipil.

Zhang, yang menggambarkan Myanmar sebagai "tetangga yang bersahabat," sangat mendukung upaya diplomatik oleh Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara yang dikenal sebagai ASEAN dan oleh utusan khusus PBB untuk Myanmar Christine Schraner Burgener.

Zhang turut menyatakan harapan bahwa upaya itu akan membuahkan hasil. Dia berkata "China tidak mendukung dijatuhkannya sanksi pada Myanmar."

"Kita harus benar-benar menciptakan lingkungan yang lebih kondusif untuk membawa negara kembali normal dan mencari solusi politik melalui dialog di antara partai politik terkait dalam kerangka konstitusional dan hukum," katanya.

Myanmar Diisolasi Dunia

Para pengunjuk rasa berlindung di balik perisai buatan sendiri saat mereka menghadapi polisi selama tindakan keras terhadap demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon, Myanmar, 16 Maret 2021. (STR/AFP)
Para pengunjuk rasa berlindung di balik perisai buatan sendiri saat mereka menghadapi polisi selama tindakan keras terhadap demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon, Myanmar, 16 Maret 2021. (STR/AFP)

Myanmar selama lima dekade telah mendekam di bawah pemerintahan militer yang ketat yang menyebabkan isolasi dan sanksi internasional.

Saat para jenderal melonggarkan cengkeraman mereka, yang berpuncak pada kebangkitan Aung San Suu Kyi dalam kepemimpinan pada pemilu 2015, komunitas internasional menanggapinya dengan mencabut sebagian besar sanksi dan menuangkan investasi ke negara tersebut.

Kudeta terjadi setelah pemilihan November, yang dimenangkan oleh partai Aung San Suu Kyi dan pihak militer menuduh pemilu itu telah dirusak dan banyak penipuan.

"Ini terutama masalah yang berkaitan dengan perbedaan dalam pemilihan," kata Zhang.

"Parpol harus bisa mencari jalan keluarnya. Jadi itulah mengapa China lebih memilih banyak upaya diplomatik."

"Itulah mengapa China bekerja sangat erat dengan pihak-pihak terkait mendesak mereka untuk benar-benar menahan diri dari bersikap ekstrim, menghindari kekerasan, menghindari korban jiwa, dan mencoba mencari solusi dengan dialog. Karena itu, dewan juga memberikan dukungan penuh terhadap upaya diplomasi ASEAN," ujarnya.

Saksikan Video Berikut Ini: