Dipo Alam: Saya Tidak Kenal Bunda Putri

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA- Sekretaris Kabinet Dipo Alam mengaku tidak mengenal Ridwan Hakim, putra keempat Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hilmi Aminuddin.

Dia juga mengaku tak mengenal sosok Bunda Putri, sebagaimana yang pernah disebut-sebut dalam sidang pengurusan kuota impor sapi dan tindak pidana pencucian uang, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.

"Jadi saya enggak kenal siapa itu Yudi Setiawan, Ridwan Hakim anaknya Hilmi Aminudin. Saya juga tidak kenal Bunda Putri," ujar Dipo Alam usai melepas rombongan Presiden SBY melakukan kunjungan kerja ke tiga negara Eropa di Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Minggu (1/11).

Nama Dipo yang disebut-sebut dalam sidang pengurusan kuota impor sapi dan tindak pidana pencucian uang, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (29/8), pekan lalu. Dipo mengatakan nama tersebut bukan dirinya. "Bukan nama saya itu. Itu kan bukan Dipo Alam," ujar Dipo.

Menurutnya, yang memiliki nama Dipo Alam di negeri ini bukan hanya dirinya. "Ada pemain bola namanya Dipo Alam, ada polisi di Lombok namanya Dipo Alam, ada penjahit namanya Dipo Alam, ada warung padang yang punya Dipo Alam," katanya.

Dia pun menegaskan, dirinya tak ada kaitannya dengan pengurusan kuota impor sapi. Selain itu, Dipo Alam juga mengaku tak mengenal sejumlah pihak yang berada di dalam sidang pengurusan kuota impor sapi itu, maupun sejumlah sosok yang muncul dari sidang tersebut.

Dipo mengaku tidak kenal dengan pengakuan Ridwan, putra keempat Hilmi Aminuddin bahwa dana Rp 40 miliar diberikan melalui utusan bernama Sengman Tjahja. Dipo bahkan menyebut, ini upaya untuk menyeret-nyeret Istana. Apalagi, sebelumnya Fahri Hamzah juga menuduh hal yang sama.

"Nggak tahu saya, setelah mendekati, sekarang ke anak dan pimpinan, sebelumnya Fahri, bilang kenal Yudi Setiawan, saya kenalnya Yudi Wowor, itu adik istri saya," kata Dipo.

Mengenai bunda putri yang juga ada dalam rekaman percakapan Ridwan Hakim dan Luthfi Hasan Ishaaq, Dipo pun mengaku tidak mengenalnya. "Saya kenal bunda, tapi bunda Sri, kakak saya, bunda putri siapa yang tahu," katanya, berseloroh.

Kendati demikian, Dipo tidak ambil pusing terkait pencatutan namanya saat di Pengadilan Tipikor beberapa waktu lalu. "Apa hubungannya saya dengan impor sapi, itukan kementerian teknis kan," jelasnya.

Saat ditanya apakah dia mengenal orang dekat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang juga seorang pengusaha bernama Sengman Tjahja? Dipo pun berkelakar, Sengman yang ia kenal adalah seorang tukang seng. "Yang saya tahu (Sengman) tukang seng," tukasnya.

Kasus pengurusan kuota impor daging sapi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) di Kementerian Pertanian (Kementan) dengan tersangka Ahmad Fathanah, dan mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq, diduga mulai menyenggol Istana.

Bahkan, Ridwan Hakim, putra Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminuddin, turut menyebut Sengman yang diduga utusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), saat bersaksi untuk terdakwa Ahmad Fathanah di Pengadilan Tipikor, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

Sosok lain yang muncul di sidang adalah perempuan misterius bernama Bunda Putri. Mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq menyebutkan, Bunda Putri punya peran penting. Saat diperdengarkan dipersidangan, tersingkap rekaman pembicaraan antara Luthfi Hasan dan Ridwan Hakim ini, turut muncul nama Dipo dan Mas Boed. (Edwin Firdaus/Ferdinand)

Baca Juga:

KPK Diminta Telisik Sosok 'Bunda Putri'

KPK Diminta Ungkap Sosok Sengman, Pak Lurah, Bunda Putri, dan Haji Susu

Staf Khusus SBY Pernah Dengar Nama Sengman

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.