Direktur RSUD Kota Mataram: Tidak Ada Orang Meninggal Karena COVID-19

Syahdan Nurdin, bambosi

VIVA – Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kota Mataram, dr Lalu Herman Mahaputra atau lebih dikenal dengan sebutan dr Jack sempat melontarkan pernyataan yang sedikit kontroversial terkait dengan pandemi Corona Virus Disease 2019 atau lebih dikenal dengan sebutan Covid-19.

Ia menyebutkan bahwa obat dari Covid-19 bukanlah vaksin, melainkan kebahagiaan yang dapat meningkatkan imun tubuh dan membentuk antibodi yang dapat melawan virus yang masuk ke dalam tubuh.

Pernyataan tersebut sempat mengundang pro dan kontra di kalangan masyarakat terutama warganet, karena untuk memperoleh kebahagiaan maka dibutuhkan kehidupan normal kembali yang bisa didapatkan apabila virus ini sudah lenyap.

Dalam sebuah Podcast yang muncul baru-baru ini, dr Jack kembali mengemukakan pendapatnya terhadap virus yang telah ditanganinya sejak bulan Maret lalu.

Seperti dilansir www.wartamataram.com, dalam Podcast bersama TGH. Muammar Arafat, SH, MH, dr Jack menyampaikan bahwa ia telah memiliki pengalaman dalam mengatasi serta menganalisa penyakit akibat dari Covid-19 ini.

Dalam kurun waktu tiga bulan tersebut, ia menyatakan bahwa tidak ada pasien yang meninggal murni karena Covid-19. Mereka yang telah dinyatakan positif terpapar Covid-19 kemudian meninggal ataupun yang meninggal terlebih dahulu baru kemudian dinyatakan positif adalah pasien yang memiliki penyakit bawaan.

Selama perjalanan merawat pasien Covid-19, dr Jack tidak menemukan bahwa virus ini berbahaya, bahkan ia menyebut virus MERS jauh lebih berbahaya dan mematikan dibanding Covid-19.

Dari ratusan pasien yang terpapar virus corona, tidak satupun yang meninggal murni akibat Covid-19. Pasien dinyatakan meninggal karena penyakit bawaan lainnya seperti diabetes, jantung, pneumonia berat, hipertensi dan lain sebagainya.

Menurut dr Jack, perawatan yang dilakukan terhadap pasien penderita Covid-19 cukup sederhana, mereka ditempatkan di ruang isolasi dan memberi antivirus serta vitamin yang cukup selama lima hari.

Setelah itu tubuh si pasien yang akan menyesuaikan sendiri termasuk juga mengeluarkan antibodi yang akan melawan virus tersebut. Setelah pasien dinyatakan sembuh, kecil kemungkinan pasien tersebut akan terjangkit Covid-19 kembali.

Terkait dengan sikap masyarakat terhadap pandemi Covid-19 ini, dr Jack menyampaikan bahwa masyarakat tidak perlu berlebihan dalam menyikapi hal ini.

Namun, protokol pencegahan Covid-19 seperti social distancing, physical distancing, menggunakan masker, mencuci tangan dan kegiatan-kegiatan lain atau secara garis besar pola hidup sehat, harus terus dilakukan, karena Covid-19 ini termasuk jenis virus yang tingkat penyebarannya sangat tinggi.

Sebagai penutup, dr Jack mengimbau masyarakat untuk terus meningkatkan pola hidup sehat dan menjaga kebersihan. Karena dengan demikian, tidak hanya mencegah Covid-19, namun juga dapat mencegah penyakit lainnya seperti demam berdarah, diare dan lain sebagainya.