Dirjen KKP dorong penyebarluasan tambak udang milenial

Biqwanto Situmorang
·Bacaan 2 menit

Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto mendorong penyebarluasan penerapan konsep Millenial Shrimp Farming (MSF) atau tambak udang milenial yang dinilai memiliki beberapa keunggulan dengan tetap memperhitungkan keberlanjutan lingkungan.

"MSF ini memiliki beberapa keunggulan, di antaranya konstruksi lebih murah kalau dibandingkan dengan tambak konvensional, operasionalnya juga mudah, manajemen risikonya lebih rendah, sudah menerapkan digitalisasi data operasional, dan yang tak kalah penting, memperhitungkan keberlanjutan usaha dan lingkungan," kata Slamet Soebjakto dalam siaran pers di Jakarta, Selasa.

Menurut Slamet, MSF memperhitungkan keberlanjutan usaha dan lingkungan antara lain karena dalam satu klasternya harus memiliki unit pengolahan limbah, kolam tandon dan juga kolam sedimentasi.

Program tambak milenial tersebut, lanjutnya, sejalan dengan program Menteri Trenggono, yaitu pengembangan perikanan budidaya untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Diperlukan pengembangan perikanan budidaya yang didukung kajian ilmiah dan perencanaan bisnis yang matang.

KKP fokus pada produk ekspor komoditas unggulan Indonesia yang memiliki nilai ekonomis tinggi, yaitu udang, lobster dan rumput laut. Komoditas udang dipilih menjadi prioritas karena berdasarkan data ekspor periode 2020, volume ekspor udang Indonesia mencapai 239.227 ton, dengan nilai 2,04 miliar dolar AS.

Salah satu penerapan dari MSF terdapat di Situbondo, Jawa Timur, yang merupakan program percontohan budidaya udang vaname dari KKP yang melibatkan kaum milenial.

Melalui Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP), MSF Situbondo ini dinilai KKP mampu menggerakkan ekonomi masyarakat di Desa Gundil, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur.

Berdasarkan keterangan Kepala BPBAP Situbondo, Nono Hartanto, target produksi tambak MSF di Situbondo ini sebanyak 1,5 ton per kolam atau 30 ton per hektare per siklus. Nono menjelaskan bahwa pihaknya berupaya mewujudkan usaha budidaya rakyat dalam bentuk klaster dengan skala ekonomi.

"Minimal 60 unit kolam dengan 60 pembudidaya, dan hal itu diharapkan dapat menjamin peningkatan kesejahteraan pembudidaya dengan pendapatan 5 juta per bulan," jelas Nono.

Perlu diketahui, MSF Situbondo ini menerapkan inovasi teknologi budidaya kolam bundar dengan diameter 20 meter yang dapat dibongkar pasang dengan padat tebar mulai dari 250 ekor per meter persegi.

Ia memaparkan, inovasi yang dilakukan dengan memanfaatkan teknologi berbasis industri 4.0, terdapat automatic feeder, water quality monitoring, nanobuble, oksigen murni yang dilengkapi aplikasi budidaya berbasis data.

Baca juga: Optimalkan tambak terlantar, KKP bidik peluang ekspor udang 2 juta ton
Baca juga: Teten Masduki dorong pemberdayaan petani tambak udang melalui koperasi
Baca juga: KKP bangun tambak udang berkelanjutan di Sukamara Kalimantan Tengah