Dirty Frank Bahas Pemimpin yang Banyak Obral Janji di Lagu Demokrasi Palsu

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta - Grup band rock Dirty Frank kembali dengan lagu terbaru berjudul "Demokrasi Palsu". Lagu terbaru ini dirilis pada 25 Oktober 2021, bertepatan dengan ulang tahun sang vokalis, yakni Yuddie Vedder Dhanurendra alias YV.

Menurut dia, tanggal 25 Oktober 2021 memiliki tiga momen bersejarah yang tak bakal dilupakannya. Yang pertama, lagu terbaru band yang digawangi YV (vokal), Dewa Yudha (gitar) dan Dony Setiawan (drum) resmi dirilis.

"Yang kedua, perilisan karya musik Demokrasi Palsu menjadi hadiah di ulang tahunku di tanggal 25 Oktober. Di tanggal ini, aku juga membuka usaha kuliner Ayam Kremes Manteb Men di area Malioboro Mal Yogyakarta," kata YV saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Senin (25/10/2021).

Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Diciptakan YV

Dirty Frank meluncurkan lagu terbaru berjudul Demokrasi Palsu (ist)
Dirty Frank meluncurkan lagu terbaru berjudul Demokrasi Palsu (ist)

Tak cuma memiliki tugas menyanyikan lagu agar bisa dinikmati pecinta musik, YV ternyata menjadi juru racik dari terciptanya lagu "Demokrasi Palsu". Bagi Dirty Frank, lagu baru ini merupakan single kedua setelah sebelumnya merilis “Bangga masuk TV” pada 8 Oktober 2020 lalu.

Pemimpin Obral Janji

Dirty Frank meluncurkan lagu terbaru berjudul Demokrasi Palsu (ist)
Dirty Frank meluncurkan lagu terbaru berjudul Demokrasi Palsu (ist)

Diakui YV, lagu tersebut diciptakannya berdasarkan kondisi demokrasi Indonesia terkini, yang menghimpun sejumlah pemimpin tak lagi mengingat janji politiknya terhadap masyarakat.

"Liriknya bercerita tentang kondisi demokrasi di Indonesia, dimana ketika seseorang mencalonkan diri menjadi pemimpin banyak obral janji," YV mengisahkan.

Korupsi

Dirty Frank meluncurkan lagu terbaru berjudul Demokrasi Palsu (ist)
Dirty Frank meluncurkan lagu terbaru berjudul Demokrasi Palsu (ist)

YV menambahkan, bukan cuma soal obral janji pemimpin yang jadi daya tarik utama dalam penggalan lirik lagu "Demokrasi Palsu". Ia juga menyajikan lirik bernuansa sindiran.

"Ketika sudah terpilih dan duduk sebagai pemimpin lupa dengan janjinya, sibuk dengan diri sendiri dan bahkan korupsi memperkaya diri. Jadi janji janji sewaktu kampanyenya palsu,” dia mengakhiri.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel