Dirumahkan dan Kehilangan Pekerjaan Bukan Akhir dari Segalanya

Fimela.com, Jakarta Punya kisah atau kesan tak terlupakan terkait bulan Ramadan? Atau mungkin punya harapan khusus di bulan Ramadan? Bulan Ramadan memang bulan yang istimewa. Masing-masing dari kita pun punya kisah atau pengalaman tak terlupakan yang berkaitan dengan bulan ini. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam My Ramadan Story: Berbagi Kisah di Bulan yang Suci ini.

***

Oleh: Sesa Putri

"Mbak Sesa, nulisnya nggak usah dilanjutkan lagi. Kata Bapak, Mbak dirumahkan dulu," sebuah pesan Whatsapp dari Ica, sekretaris atasanku, masuk pukul 7 pagi tepat tanggal 1 April 2020. Seperti biasa, pukul 7 pagi adalah waktuku merias diri di depan kaca, bersiap untuk berangkat ke kantor. Sebuah perusahaan percetakan dan penerbitan kecil, di sana aku bekerja sebagai writer and translator. Ternyata, 31 Maret adalah hari terakhirku bekerja. Maka hari ini, aku tak perlu lagi bersiap seperti ini.

Sambil menghela napas panjang, "Aku di-PHK, ya," batinku. Tak kusangka, dampak pandemi ini lebih dari cambuk untukku. Bagaimana aku menghasilkan uang? Ini terlalu mendadak." Kepalaku pusing, tak habis pikir kenapa bisa seperti ini. Benarkan begini etika memberhentikan karyawan?

Rasa ingin menangis, tapi menangis bukan gayaku. Dengan tenang aku masuk ke kamar mama, "Ma, Ayuk di-PHK," ucapku hati-hati dengan suara nyaris berbisik. "Apa Mama akan marah?" batinku. Untuk beberapa saat mama hanya diam. Mungkin dia juga sama kagetnya seperti ku. "Ya sudah, persiapkan saja tes SKB mu, kamu lolos SKB kan? Mungkin Allah ingin kasih kamu kesempatan belajar lebih banyak." Seperti sihir, kata-kata mama mampu memecah tangisku yang sedari tadi kutahan. "Arghh... sebal! Menangis kan bukan gayaku," protesku pada diri sendiri. Aku beruntung sekali memiliki ibu seperti ini.

Dengan sisa tabungan yang ada, dan akumulasi gaji terakhir, aku mulai menimbang-nimbang usaha apa yang bisa kulakukan. "Apa aku berjualan makanan saja?" Otak kecilku berkata seperti itu, tapi nyatanya aku bahkan tak pandai memasak. "Arghh sebal, kenapa keahlianku cuma menulis dan bahasa Inggris saja?" Seharian waktuku kuhabiskan untuk browsing internet, entah itu scroll intagram, browsing lowongan pekerjaan, sampai menonton drama korea yang bahkan tidak pernah kulakukan.

"Yuk, zuhur dulu," ucap mama dari balik pintu kamarku. Deg, seketika aku ingat Allah. Aku malu mengakui ini, tapi rasanya sudah sangat lama aku tidak salat zuhur. Jam segini biasanya masih sibuk mengetik, mengingat jumlah artikel yang harus kutulis dan terjemahan bisa sampai ratusan dalam sebulan. Juga jangan tanya salat Ashar, jam segitu juga termasuk jam-jam ngetik ngebut, karena jam 5 sore artikel harus sudah dikirim ke editor. Cuma magrib dan subuh saja waktu salatku, itu pun karena selalu diingatkan mama. Ah ya, mama tadi memintaku salat dzuhur. Bisa dibilang, ini salat zuhur pertamaku lagi setelah sekian lama. Ah, aku malu.

Memperbaiki Kualitas Diri

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Creativa

"Yuk, nggak usah cari-cari kerja dulu. Liat, itu kasus covid-19 makin lama makin parah. Ayuk di rumah saja sekalian baca-baca buat persiapan SKB," kalimat ini pasti terlontar tiap kali mama melihatku membuka laptop. Ternyata, keluarga memamg rumah paling nyaman untuk pulang. Ternyata PHK tak terlalu menyedihkan. Hari-hariku masih berlalu dengan baik, aku masih sehat dan pastinya, bahagia.

"Nanti malam kita tarawih di rumah, nggak usah ke masjid, Papa imam," ucap mama. "Ayuk juga rajin-rajin salat sunnah, dhuha minta rezeki sama Allah, baca Al-Quran. Nggak usah bukber-bukber dulu. Buka di rumah saja," ucapnya lagi.

Terdengar klise memang, tapi Ramadan kali ini terasa sangat menyentuh hati. Aku yang biasanya melewatkan Ramahan begitu saja, kali ini lebih bisa memaknai lebih arti bulan suci ini. Tak ada bingkisan atau THR memang, tapi Allah memberiku hidayah-Nya. Terima kasih, aku sampai malu pada jilbabku.

Jadi, apa yang istimewa? Entahlah. Semuanya berlalu seperti biasa. Kami berpuasa dan berbuka bersama. Tapi rutinitas tahunan ini seperti memberi euforia tersendiri. Bukan karena anjuran pemerinta untuk stay at home yang memberiku kesempatan untuk lebih "dekat" dengan keluarga, tapi karena rasa lega yang aku rasakan. Perasaan diterima di keluarga ini, membuatku merasa "dekat". Aku yang pengangguran ini ternyata dikelilingi oleh orang-orang yang amat peduli padaku, khususnya mama. Aku yang selama ini beranggapan bahwa membahagiakan orangtua adalah hanya dengan menghasilkan banyak uang, ternyata tak begitu tepat. Nyatanya, aku masih disayangi tak kurang sedikit pun hingga detik ini.

Dan aku mendapatkan kesadaran itu di bulan Ramadhan ini. Alhamdulillah, aku sangat berayukur. Ramadhan ini, aku banyak berubah. Semoga Allah menjaga istiqamahku.

#ChangeMaker