Dirut AP II: Kepemilikan Pesawat Dalam Negeri Menyusut dari 600 Jadi 400

Merdeka.com - Merdeka.com - Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) atau AP II, Muhammad Awaluddin menyebut bahwa kepemilikan pesawat oleh maskapai di dalam negeri mengalami penyusutan. Sebelum pandemi, jumlah kepemilikan pesawat mencapai 600, kini menjadi sekitar 400 pesawat.

"Saat ini maskapai dalam kondisi yang jumlah kepemilikan pesawatnya berkurang. Saya bisa menyebut sebelum pandemi, jumlah kepemilikan pesawat dari seluruh maskapai yang beroperasi itu mendekati sekitar 600 pesawat, hari ini kurang lebih 350 – 400 pesawat," kata Muhammad Awaluddin dalam acara Forwahub update terkait penerbangan umrah di Bandara Kertajati, Jumat (25/11).

Dia menyebut, setelah pandemi terdapat shortage capacity (kekurangan kapasitas) sebesar 45-50 persen. Maskapai tidak sepenuhnya bisa memenuhi permintaan penerbangan dari masyarakat. Ini terjadi karena demand-nya sudah meningkat dan jumlah pesawat justru berkurang.

"Ada namanya shortage capacity yang kurang lebih sekitar 45-50 persen. Situasi ini tidak mudah bagi maskapai, di satu sisi demand sudah mulai recovery, kemudian alat produksinya belum maksimal sehingga ada gap, ini challenge," ungkapnya.

Tantangan lainnya yang dialami oleh operator bandara dan operator maskapai yaitu menyangkut biaya operasional. Sebab, sebelum dan setelah pandemi biaya operasional itu masih sama, tidak ada pengurangan.

"Biaya operasi maskapai dan bandara tidak berkurang sebelum dan setelah pandemi. Biaya operasi itu sama komponennya, ada biaya maintenance, biaya avtur, biaya sparepart, biaya operasi, marketing dan sebagainya," katanya.

Tutup Rute Penerbangan

Oleh karena itu, banyak maskapai yang menutup beberapa rute penerbangan, dan memprioritaskan rute penerbangan yang ramai. Jika tidak begitu, maka pihak maskapai akan merugi.

"Tentu saja ini kembali lagi ini bisnis. Kalau rencana bisnis belum mampu mengcover itu tentu saja mereka memiliki prioritas. Apa yang membuat maskapai sekarang jadikan prioritas untuk terbang? Di mana traffic yang tinggi, kalau enggak yah boncos," ujarnya.

Maka tidak heran jika maskapai penerbangan memprioritaskan rute penerbangan yang masih ramai ,seperti Jakarta- Surabaya, Jakarta-Kualanamu, Jakarta-Makassar, Jakarta-Denpasar.

[idr]