Dirut BPR Jadi Korban Kecelakaan Bus di Tol Cipularang

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Kecelakaan lalu lintas kembali terjadi di ruas tol Cipularang KM 101 arah Bandung-Jakarta, Sabtu (22/12/2012) sekitar pukul 03.30 pagi.

Akibat kecelakaan bus dan truk ini tujuh orang meninggal dan 29 lainnya luka-luka.

Salah seorang korban meninggal adalah Supardi (50), Direktur Utama Bank Perkreditan Rakyat/Bank Kredit Kecamatan Purbalingga (BPR/BKK), Jawa Tengah.

Selain itu, anak Supardi bernama Adi Besta Yudistira (18); kemudian Siti Nailah (60), karyawan salah satu toko milik Supardi; Atik (40), anak Siti; Wahyu (18), salah satu saudara Supardi; Ujang Kurnia (48), kernet bus; dan Anwarudin Ma'ruf (27), warga Sokaraja, Banyumas, staf biro perjalanan, tewas di tempat kejadian.

Adapun korban yang mengalami luka rata-rata adalah karyawan Supardi.

Kepala Subbagian Pemberitaan dan Kemitraan Media Bagian Humas Purbalingga Prayitno membenarkan bahwa seorang korban adalah Supardi, Dirut BPR/BKK Purbalingga.

Kasat Lantas Polres Cimahi AKP, Irwansyah, mengatakan, kecelakaan tepatnya terjadi di wilayah Cikalong, Kabupaten Bandung Barat.

Kecelakaan yang terjadi di ruas B atau dari arah Bandung menuju Jakarta ini diduga akibat pengemudi Bus Tri Star Nopol R 1696 EA yang diketahui bernama Sarjiwan mengantuk dan menabrak truk Nopol B 9752 SYT.

"Semua korban, baik meninggal maupun luka dievakuasi ke dua rumah sakit di Purwakarta, yakni Rumah Sakit Evarina Etaham dan Rumah Sakit Enhatamrin. Kami masih menyelidiki penyebab kecelakaan ini," katanya saat dikonfirmasi Tribun.

Informasi yang dihimpun Tribun menyebutkan, bus Tri Star membawa rombongan keluarga besar Supardi. Mereka berangkat dari Purbalingga, Jumat (21/12/2012) sekitar pukul 19.30. Rencananya, mereka hendak berlibur di Ragunan, Jakarta, dan Masjid Kubah Emas, Depok.

Selama dari Purbalingga hingga masuk ke pintu tol Cileunyi, tidak ada masalah apa-apa. Bus pun melaju dengan kecepatan tinggi. Setibanya di KM 101, tiba-tiba bus tidak terkendali dan menabrak belakang truk yang sedang melaju di jalur lambat.

Kecelakaan tidak terhindari, tapi sopir bus selamat dalam kecelakaan tersebut.

"Mungkin, pengemudi bus tidak dapat mengendalikan laju kendaraannya. Akibatnya, benturan keras pun terjadi," kata Iwan Mulyawan, Humas PT Jasa Marga Tol Purbaleunyi, yang dihubungi Tribun, kemarin.

Sarjiwan, sopir bus maut, langsung ditetapkan sebagai tersangka. Dalam proses pemeriksaan di Polres Cimahi, Sarjiwan juga menjalani tes urine.

"Tes urine dilakukan untuk melihat ada tidaknya sopir menggunakan narkoba jenis apa pun," ujar Kapolres Cimahi AKBP Anwar, kemarin.

Hasil tes urine menunjukkan, Sarjiwan diduga mengonsumsi ganja tiga hari sebelum kecelakaan terjadi. "Dari hasil pemeriksakan diperkirakan tersangka mengonsumsi ganja ini tiga hari lalu," ujar dr Yusuf Tajirin kepada wartawan, kemarin.

Namun Sarjiwan menolak hasil tes urine tersebut. Ia membantah bahwa dirinya mengonsumsi ganja. "Saya tak mengonsumsi ganja saat mengemudi," bantah pria 56 tahun ini. Sarjiwan mengatakan saat peristiwa maut itu terjadi, ia dalam kondisi lelah sehingga kurang konsentrasi dan mengantuk.

Tak Menyangka
Yusro, kakak kandung Supardi, merasa terpukul dengan kejadian yang menimpa adiknya itu. Ia beberapa kali bercerita tetang sosok Supardi yang dermawan dan rendah hati terhadap masyarakat sekitar.

"Supardi itu adik kandung saya. Orangnya low profile, mudah bergaul, dikenal baik oleh warga sekitar. Pardi, Pardi, Pardi...," kata Yusro, yang juga anggota Komisi III DPRD Purbalingga Fraksi PKB, kemarin.

Sehari sebelumnya, Yusro memang sempat diajak oleh Supardi untuk ikut bertamasya ke Ragunan dan Masjid Kubah Emas.

"Kebetulan saya ada rapat paripurna, jadi tidak ikut, dan yang ikut adalah anak saya Lufiana Kusnawati, dan keponakan saya Wawan. Anak saya sehat, berangkatnya sekitar pukul 19.30," ujarnya.

Mengenai kecelakaan itu, ia mendapat kabar dari Jawa Barat kemarin sekitar pukul 04.30. "Kejadiannya katanya pukul 03.30. Saya benar-benar heran, dia orang baik. Sekarang dia sedang berada di puncak kariernya," katanya, merasa sedih kehilangan adik kandungnya.

Yusro tidak pernah menyangka akan ada kejadian seperti ini. Pasalnya, tamasya seperti ini sudah empat kali berlangsung dan tiga kali terakhir tidak mengalami masalah.

Menurut Yusro, keluarga Supardi ikut semua dalam rombongan itu. Namun hanya Besta dan Supardi yang meninggal, sedangkan istri Supardi, Eni Farida, dan anak kedua Supardi, Bintang, selamat.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.