Dirut Garuda Indonesia Blak-blakan Kondisi Keuangan hingga Tawaran Pensiun Dini

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra buka-bukaan tentang kondisi perusahaan dan perihal menawarkan pensiun dini kepada karyawan.

Dia mengatakan jika opsi ini tidak dipilih jmaka gaji karyawan yang sempat ditunda tidak akan dibayarkan dulu. Itu imbas kondisi keuangan Garuda Indonesia yang semakin mengkhawatirkan.

“Memang betul kami menawarkan pensiun dipercepat bagi karyawan Garuda. Tahun 2020 karyawan Garuda Indonesia saja 7.890 orang dan tahun lalu kita sudah melakukan program pensiun dini ini, plus percepatan kontrak dari pegawai-pegawai kita,” kata dia dalam satu diskusi, Selasa (25/5/2021).

Dia turut membenarkan perihal sebuah rekaman pembicaraan dirinya yang meminta langsung kepada para karyawan agar mengambil program pensiun dini.

Berikut isi rekaman tersebut. “Buat mereka yang tidak mengambil program ini tidak akan dibayarkan dulu penghasilannya yang sempat ditunda. Kenapa saya ingin sampaikan itu karena kondisi cash kita hari ini sangat mengkhawatirkan,” kata Irfan.

“Mungkin penghasilan kita bulan ini hanya USD 56 juta, pada tahun-tahun jaya kita tahun 2019 pernah mencapai USD 200 juta teman-teman sekalian, dan kita belum tahu sampai hari ini bagaimana pembayaran gaji untuk bulan Mei ini. Saya menyampaikan waktunya tinggal 6 hari ini kita coba kerja keras,” jelas Irfan dalam rekaman tersebut.

Sejatinya Irfan menyesalan perihal beredarnya rekaman tersebut. Namun dia mengakui jika itu merupakan satu bentuk keterbukaan.

"Saya sungguh menyesalkan bahwa diskusi internal ini bisa menyebar keluar, tapi saya sebagai WNI yang sangat menghargai keterbukaan dan kebebasan informasi, saya tidak akan melakukan apapun terkait penyebaran rekaman tersebut,” ungkapnya.

Irfan mengaku jika manajemen telah berdiskusi dengan 2.000 karyawannya terkait program pensiun dini Garuda Indonesia. Sehingga dari 7.890 karyawan itu kini di tahun 2021 hanya tersisa 5.945 orang.

“Karyawan kita di tahun 2021 ini sebanyak 5.945 orang. Kami berbulan-bulan memikirkan cara yang terbaik untuk menyelesaikan dan mengantisipasi situasi yang berkembang di industri penerbangan maupun di Garuda,” tegas dia.

Tetap Optimis

Ilustrasi maskapai penerbangan Garuda Indonesia saat berhenti di apron Bandara Adi Soemarmo.(Liputan6.com/Fajar Abrori)
Ilustrasi maskapai penerbangan Garuda Indonesia saat berhenti di apron Bandara Adi Soemarmo.(Liputan6.com/Fajar Abrori)

Kendati begitu, dikatakan manajemen Garuda Indonesia tetap optimis ke depannya industri penerbangan akan kembali normal, tinggal menunggu waktu saja.

“Kami sangat optimis karena menjelang akhir tahun bisa dilihat profil pendapatan dan kerugian yang kita hadapi pada kuartal ketiga itu kita membaik sekali dibandingkan kuartal II. Kita menyaksikan jumlah penumpang yang sangat menggembirakan di akhir Desember 2020,” ujarnya.

Meski dia mengakui jika optimisme ini belum tampak di kuartal I 2021 maupun di kuartal II 2021. Apalagi ada beberapa pembatasan pergerakan sehingga aktivitas penerbangan sedikit terkendala. Namun Manajemen Garuda dipastikan sangat mendukung kebijakan emerintah terkait pembatasan itu.

“Kita sangat mendahulukan kesehatan masyarakat. Bahwa Garuda hari ini satu-satunya maskapai Indonesia yang mempertahankan distancing, menurut kita itu penting,” imbuhnya.

Irfan menegaskan perihal estimasi Garuda Indonesia bisa pulih di tahun ini prosesnya masih jauh dan perlu kesabaran.

“Estimasi kita recovery kita di tahun 2021 kita harus bersabar butuh waktu karena ini bukan Yayasan bukan partai karena kita diskusi dengan teman-teman serikat dan membuka alternatif yang ada untuk memastikan karyawan itu tidak terdzolimi,” pungkasnya.

Saksikan Video Ini