Dirut Pertamina: Transisi Energi Tak Bisa Secara Langsung, Harus Bertahap

Merdeka.com - Merdeka.com - Direktur Utama PT Pertamina, Nicke Widyawati menyebut transisi energi di Indonesia tidak bisa diterapkan secara langsung. Mengingat kebutuhan energi sangat besar, sehingga perlu dilakukan secara bertahap.

"Kita tidak bisa serta merta alihkan dari fosil ke energi baru terbarukan, makanya kita balance dua-duanya," kata Nicke dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Komisi VI DPR-RI, Jakarta, Kamis (8/9) malam.

Namun demikian, saat ini 19 persen Capital expenditure (Capex) Pertamina sudah masuk ke bisnis Energi Baru Terbarukan (EBT). Sedangkan sisanya, 60 persen untuk hulu migas dan 30 persen untuk kilang.

Meski porsinya lebih kecil dari alokasi Capex lainnya, namun dia menyebut porsi tersebut lebih besar dari perusahaan energi global. "EBT ini kalau kita lihat, global company hanya 9 persen dan kita ini lebih besar dari alokasi perusahaan dunia," ungkapnya.

Adapun pengembangan sumber energi ramah lingkungan Pertamina antara lain memanfaatkan potensi geothermal yang baru digunakan sekitar 7-8 persen. Nicke mengatakan bio energi ini bisa menjadi biodiesel.

Caranya dengan mencampurkan etanol dengan gasoline dari tebu atau cassava. "Dengan etanol beberapa negara sudah ini sudah menggunakan 12 persen menjadi e-12 dan kita bisa mulai dengan e-5, e-12 dan seterusnya," kata dia,

Turunkan Impor Gasoline

Mencampur metanol dan etanol, maka diharapkan impor gasoline bisa diturunkan. Sehingga bisa menciptakan kemandirian energi .

Selain itu, Pertamina juga turut berinvestasi di bisnis kendaraan listrik. Kontribusi ini diharapkan bisa mendorong pengurangan penggunaan energi fosil untuk beralih ke penggunaan energi yang lebih bersih.

"Makanya 19 persen Capex kita masukkan untuk ini," pungkasnya. [idr]