Disayang Donald Trump Dimusuhi Joe Biden, Nasib Miliarder Israel Dan Gertler yang Terseret Korupsi

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Miliarder asal Israel, Dan Gertler kembali masuk daftar hitam miliarder yang akan kena sanksi pemerintahan Joe Bidan. Padahal kurang dari dua bulan yang lalu, dia mungkin bisa bernafas lega karena sanksinya ditangguhkan Donald Trump di akhir masa jabatannya sebagai presiden.

Dan Gertler adalah miliarder pemilik perusahaan tambang dan minyak di beberapa negara di benua Afrika, kebanyakan di Republik Demokratik Kongo. Pada tahun 2017, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi kepada Gertler atas tuduhan korupsi lewat sejumlah perusahaannya tersebut.

Dalam rilisan Departemen Keuangan AS pada Desember 2017, Gertler dijatuhi sanksi bersama dengan 13 pelaku pelanggaran HAM dan korupsi lainnya. Kebanyakan terlibat dalam kejahatan di Afrika.

Meski diteken langsung oleh Trump, rupanya hukuman tersebut justru direlaksasi oleh Trump dua tahun kemudian. Ia memberikan penangguhan sanksi selama setahun terhadap perusahaan Gertler hingga Januari tahun depan.

Anehnya, keputusan tersebut diterbitkan Trump di hari-hari terakhir Trump menjabat sebagai presiden pada awal Januari yang lalu.

Meski begitu, pemerintahan Biden beda sikap. Dikutip dari Bloomberg, Senin (15/3/2021), juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price, mengumumkan akan mencabut penangguhan hukuman tersebut dan mengembalikan perusahaan Gertler ke dalam daftar hitam yang akan kena sanksi perdagangan.

"Lisensi yang sebelumnya diberikan kepada Gertler tidak konsisten dengan kepentingan kebijakan luar negeri Amerika yang kuat dalam memerangi korupsi di seluruh dunia, khususnya termasuk upaya AS untuk melawan korupsi dan mempromosikan stabilitas di Republik Demokratik Kongo," sebut Price.

Sementara itu, motif dibalik kebijakan dadakan Trump sebelumnya masih belum jelas. Dikutip dari Forbes, hasil investigasi The New York Times menyebut keputusan Trump meringankan sanksi Gertler rupanya dilakukan secara diam-diam tanpa membicarakannya dengan diplomat AS yang khusus menangani masalah korupsi di Afrika.

Selain itu, liputan investigasi ini juga menemukan beberapa nama besar terlibat di belakang tim hukum Gertler. Ada mantan direktur FBI, Louis Freeh, juga pengacara terkenal asal Israel, Boaz Ben Zur

Praktik Ilegal Gertler

Ilustrasi Miliarder (pixabay.com)
Ilustrasi Miliarder (pixabay.com)

Gertler bukanlah orang baru di Kongo, bisnisnya sudah terkoneksi dengan pertambangan di Kongo sejak akhir tahun 1990-an. Saat banyak negara di Afrika Tengah sedang krisis akibat konflik saudara. Gertler memulai dengan memperdagangkan salah satu tambang mineral andalan negara ini, berlian.

Seiring waktu, bisnis Gertler meluas termasuk eksplorasi minyak. Dari sinilah akrobat bisnisnya berhasil mengendalikan industri minyak dan pertambangan di Kongo. Hingga akhirnya, Gertler terlibat dalam sederet skandal korupsi yang membuntuti presiden Kongo, Joseph Kabila.

Dalam rilisan Departemen Keuangan AS 2017 lalu, Gertler dituduh memanfaatkan kedekatannya dengan presiden Kabila untuk memonopoli industri pertambangan di negara tersebut. Gertler memegang kendali atas izin perusahaan internasional yang ingin berbisnis hasil tambang di negara tersebut.

Dari tahun 2010 hingga 2012, diketahui Kongo mengalami kehilangan potensi pendapatan sampai USD 1,36 miliar karena penjualan aset pertambangan minyak dengan harga murah kepada perusahaan lepas pantai yang memiliki koneksi dengan bisnis Gertler.

Gertler bekerjasama dengan presiden Kabila mengatur skema pembelian aset tambang tersebut. Setahun setelahnya, pada tahun 2013, Gertler menjual kepemilikannya atas salah satu blok minyak dengan harga USD 150 juta setara Rp 2,1 triliun. Padahal, Gertler membelinya dari pemerintah hanya USD 500 ribu setara Rp 7,1 miliar.

Tidak cukup hanya minyak, kini Gertler diketahui ikut serta dalam persaingan untuk mengeksplorasi sumber daya mineral lainnya di Kongo, yaitu tembaga dan kobalt. Terlebih setelah kobalt makin diincar sebagai bahan pembuatan baterai penggerak mobil listrik.

Dengan prospek yang menjanjikan tersebut, ditambah Kongo merupakan negara penyimpan cadangan Kobalt terbesar dunia, tidak heran kalau nama Gertler juga ada di dalam industri baru ini. Perusahannya, Glencore Plc dan Eurasian Resource Group memegang lisensi untuk eksplorasi kobalt secara besar-besaran di Kongo.

Reporter: Abdul Azis Said

Saksikan Video Ini