Disfungsi Ereksi Ampuh Diatasi Pakai Garam? Ini Penjelasan Pakar

Rochimawati, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 1 menit

VIVADisfungsi seksual merupakan gangguan fisik atau psikologis yang membuat seseorang atau pasangannya kesulitan mencapai kepuasan seksual. Disfungsi seksual pria menjadi salah satu masalah yang kompleks karena berbagai faktor dapat menyebabkan kondisi ini.

Disfungsi seksual pada pria sendiri dapat terjadi pada seluruh kelompok umur, namun memiliki hubungan berbanding lurus dengan penambahan usia. Salah satu hal yang membuat masalah disfungsi seksual tidak pernah selesai adalah kurangnya pengetahuan atau kesadaran pria terhadap hal ini.

Berdasarkan survei di Eropa, hanya 50 persen pria yang mengetahui tanda dan gejala disfungsi ereksi, salah satu bentuk disfungsi seksual yang paling umum. Termasuk atas pemahaman pria yang kerap memakai obat-obatan atau minuman tertentu bahkan garam, untuk keperkasaan si Mr P, benarkah?

Baca juga: 5 Gejala Awal Diabetes pada Pria, Nomor 2 Paling Ngeri

"Salah satu bisnis paling empuk ya bisnis ini (obat untuk penis). Karena mau diisi garam atau gula merah saja, 30 persen akan membaik ereksinya," ujar Pakar dari Departemen Medik Urologi FKUI-RSCM, Dr. dr. Nur Rasyid, SpU (K), dalam acara launching virtual Men’s Health and Couple Well-being Clinic, RSCM Kencana.

Disfungsi ereksi sendiri adalah kondisi saat penis kesulitan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi yang dapat disebabkan oleh banyak faktor termasuk gangguan psikogenik. Pada penelitian obat viagra dalam uji klinik fase tiganya, terbukti bahwa disfungsi ereksi dapat diperbaiki dengan zat apapun.

"Penelitian fase 3 dengan viagra, kita dapatkan 30-40 persen ada plasebo efek. Orang dapat plasebo juga alami perbaikan ereksi sehingga obat atau zat apapun bisa dirasakan oleh pasiennya karena pasien sebenarnya alami gangguan yang psikogenik," tuturnya..

Ditambahkan Dokter Rasyid, lebih dari 80 persen ada gangguan psikoorganik pada pasien disfungsi ereksi. Beberapa faktor psikologis seperti masalah pernikahan atau hubungan interpersonal lain, kekhawatiran terhadap performa seksual, depresi dan rasa bersalah, riwayat trauma seksual, atau stres pekerjaan atau rumah tangga.