Diskriminasi gender di pendidikan sudah tidak ada

·Bacaan 1 menit

Pelaksana tugas Dirjen Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi (Diktiristek) Kemendikbudristek Prof Nizam mengatakan diskriminasi gender tidak lagi berlaku di dunia pendidikan.

“Diskriminasi gender tidak ada lagi di dunia pendidikan. Kondisi kita jauh lebih baik dibandingkan negara-negara di Asia bahkan di atas rata-rata dunia,” ujar Nizam dalam peringatan Hari Ibu yang diselenggarakan DWP Sub Unit Ditjen Diktiristek Kemendikbudristek di Jakarta, Kamis.

Dia menambahkan persentase mahasiswi di Tanah Air mencapai 56 persen, sementara sisanya adalah mahasiswa. Begitu juga untuk angka drop out, jauh lebih banyak mahasiswa.

“Dengan demikian semakin banyak sarjana yang dihasilkan dan itu perempuan,” imbuh dia.

Meski pendidikan perempuan di Indonesia semakin membaik, Nizam mengingatkan para perempuan untuk melupakan kodratnya sebagai perempuan dan suatu saat kelak akan menjadi ibu bagi anak-anaknya.

Peran ibu menjadi sangat penting pada saat ini, pada saat dunia maya maupun dunia nyata menjadi satu kesatuan. Ki Hajar Dewantara menyebutkan bahwa terdapat tiga pusat pendidikan yakni keluarga, sekolah dan masyarakat.

“Kadang kita lupa, bahwa pendidikan utama itu ada di keluarga. Kita tidak bisa semata-mata menyerahkan pendidikan anak-anak ke sekolah saja,” jelas dia.

Oleh karenanya, seorang ibu tidak hanya berperan pada kemajuan anaknya tetapi juga kemajuan bangsa, karena pada tangan anak-anaknya Indonesia yang maju akan terwujud.
Baca juga: PlayStation digugat atas tuduhan diskriminasi gender
Baca juga: KPPPA jelaskan pentingnya Desa Ramah Perempuan Peduli Anak
Baca juga: Menteri PPPA: Jangan ada diskriminasi terhadap perempuan pekerja

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel