Disney Plus tambahkan sanggahan mengenai stereotip film rasis

New York (AP) - Layanan streaming baru Disney telah menambahkan penolakan terhadap "Dumbo", "Peter Pan" dan film klasik lain sebab mereka menggambarkan strereotip rasis, sehingga menggaris-bawahi tantangan yang dihadapi perusahaan media ketika mereka membangkitkan film lama di jaman modern.

Tindakan tersebut dilakukan saat Disney Plus tampaknya menjadi hit seketika.

Banyak perusahaan telah berkutat selama bertahun-tahun dengan cara menangani stereotip yang ada di dalam tayangan TV dan film beberapa dasawarsa lalu tapi kelihatan menggelegar hari ini. Streaming membawa masalah ke bagian awal.

Di "Dumbo", dari 1941, burung gagak yang membantu Dumbo belajar terbang digambarkan dengan suara khas hitam yang dibesar-besarkan. Nama burung gagak itu adalah "Jim Crow", istilah yang menggambarkan seperangkat hukum yang mensahkan pemisahan yang sah. Di "Peter Pan", dari 1953, tokoh Native Amerika dibuat karikatur. Film lain Disney dengan penolakan meliputi "The Jungle Book" dan "Swiss Family Robinson".

"Pocahontas" dan "Aladdin" tidak memiliki itu, kendati sebagian orang berpendapat film itu juga berisi stereotip.

Di komputer pribadi, penolakan muncul sebagai bagian dari deskripsi teks pertunjukan dan film di bawah pemain video. Itu tak terlalu menonjol di layar telepon genggam yang lebih kecil. Penonton diinstruksikan untuk menyentuh tab "details" buat satu "advisory".

Penolakan Disney menggemakan apa yang perusahaan media lain telah lakukan sebagai reaksi terhadap video bermasalah, tapi banyak orang menyeru Disney agar berbuat lebih banyak.

Perusahaan itu "pergi menindak-lanjuti dalam membuat pernyataan yang lebih kuat bahwa ini keliru, dan penggambaran ini keliru", kata Ahli Ilmu Jiwa Williams-Forson, wanita Ketua Kajian Studi Amerika di University of Maryland di College Park. "Ya, kita berada pada saat yang berbeda, tapi kita juga tidak berada pada saat yang berbeda."

Ia mengatakan penting bahwa citra tersebut diperlihatkan daripada dihapus. sebab penonton akan terdorong untuk berbicara dengan anak-anak mereka dan orang lain mengenai video itu dan bagian mereka di dalam sejarah kebudayaan kita.

Penolakan Disney adalah cara yang baik untuk memulai pembahasan mengenai masalah yang lebih besar mengenai rasisme yang ditanamkan di dalam sejarah kebudayaan kita, kata Gayle Wald, wanita Ketua Kajian Amerika di George Washington University.

"Warisan budaya kita pada akhirnya sangat terikat pada sejarah kita mengenai rasisme, sejarah kita mengenai kolonialisme dan sejarah kita mengenai seksisme, jadi dalam pengertian tersebut, itu membantu membuka banyak pertanyaan," katanya.

Wald mengatakan Disney adalah "pemasok paling terkenal yang menjadi ikon budaya mengenai jenis tamsil dan kisa ini" tapi Disney sama sekali tidak sendirian.

Komedi remaja Universal Pictures "Sixteen Candles" telah lama dicela karena mencirikan orang Asia secara khas dengan tokoh "Long Duk Dong"-nya.

Warner Bros, yang menghadapi masalah serupa dengan film kartunnya "Tom and Jerry" --yang tersedia buat streaming. Sebagian film kartun sekarang juga memiliki penolakan, tapi itu berjalan lebih jauh dari sekedar pernyataan Disney.

Bukannya merujuk ke "penggambaran budaya" yang samar, pernyataan Warne Bros menyatakan kartunnya diluncurkan buat "praduga rasial dan etnik".

"Meskipun kartun ini tidak mewakili masyarakat hari ini, semua itu disajikan seperti mereka diciptakan sebagaimana aslinya, karena melakukan yang bertolak-belakang akan sama dengan mengklaim praduga ini tak pernah ada," kata pernyataan itu.

Kadang-kala, Disney telah mengingkari satu film secara keseluruhan.

"Song of the South", dari 1946, yang meraih Oscar buat lagu "Zip-A-Dee-Doo-Dah", tak pernah diluncurkan buat video dan tak pernah hadir di bioskop selama beberapa dasawarsa. Itu juga tidak dimasukkan di dalam Disney Plus.

Disney dan Warner Bros. tidak menanggapi permintaan komentar.

Sonny Skyhawk, seorang aktor dan produsen yang menciptakan grup American Indians di Film dan Televisi, mendapati penolakan dua-kalimat kurang.

Apa yang melayani grup minoritas lebih baik daripada penolakan apa pun semata-mata menawarkan mereka peluang untuk menceritakan kisah mereka sendiri di platform seperti Disney Plus, kata Skyhawk. Ia menyatakan bahwa ketika ia berbicara dengan anak muda Indian, "negatif terbesar ialah mereka tidak memandang diri mereka diwakili di Amerika".