Disuntik Vaksin COVID-19, Pria Ini Alami Efek yang Bikin Merinding

Donny Adhiyasa, Isra Berlian
·Bacaan 2 menit

VIVA – Sejumlah negara telah melakukan program vaksinasi COVID-19 untuk lansia. Namun baru-baru ini seorang pria berusia 74 tahun mengalami efek tidak biasa usai mendapat suntikan vaksin COVID-19.

Richard Terrell, diketahui menerima suntikan vaksin COVID-19 Johnson & Johnson pada 6 Maret lalu. Pasca empat hari usai mendapat suntikan vaksin dirinya mengalami rasa tidak nyaman pada beberapa bagian tubuhnya seperti di area ketiak.

Namun rasa tidak nyaman tersebut 'menjalar' dan membuat kulitnya menjadi merah cerah serta menyebabkan pembengkakan.

"Saya mulai merasakan sedikit ketidaknyamanan di ketiak saya dan beberapa hari kemudian saya mulai mengalami ruam gatal, dan setelah itu, saya mulai membengkak dan kulit saya menjadi merah," kata dia seperti dikutip dari laman Dailystar.

Merasakan tidak kenyamanan, Terrell pun berinisiatif datang ke dokter kulit untuk konsultasi. Namun sayangnya reaksinya semakin memburuk dan dia dibawa ke UGD pada 19 Maret.

“Perih, panas dan gatal dan lebih buruk di lengan dan kaki," kata dia.

Terrell pun diketahui harus menjalani perawatan selama lima hari di VDU Medical Center sebelum diperbolehkan pulang untuk beristirahat dan memulihkan diri. Terrell mengklaim dirinya masih sangat lemah tetapi tetap bersyukur telah menerima vaksin tersebut.

Dokter yang merawat Terrell memastikan bahwa ruam tersebut disebabkan oleh reaksi obat. Di sisi lain, Spesialis dermatologi, untuk Kesehatan Universitas Virginia Commonwealth, Dr. Fnu Nutan mengatakan mereka mengesampingkan infeksi virus apa pun, termasuk COVID-19 sebagai penyebab potensial.

"Kami memastikan bahwa ginjal dan hatinya baik-baik saja, dan akhirnya kami sampai pada kesimpulan bahwa penyebabnya adalah vaksin yang dia terima," jelas dia.

Dr Nutan memperingatkan bahwa insiden yang dialami oleh Terrell itu bisa mengancam jiwa jika tidak ditangani. Namun demikian, dia menegaskan bahwa reaksi seperti ini jarang terjadi.

Dokter telah mendesak orang-orang untuk tidak menggunakan tanggapan langka tersebut sebagai alasan untuk tidak mendapatkan vaksin karena dia telah melihat gejala yang lebih buruk dari COVID-19.

Untuk diketahui, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika, (FDA) mengatakan bahwa vaksin Johnson & Johnson memiliki efektivitas sebesar 85 persen dalam mencegah penyakit parah dan 66 persen melindungi secara keseluruhan terhadap kasus-kasus sedang.

Menurut laporan dari lembaga yang dirilis pada akhir Februari, vaksin tersebut memiliki efek samping yang lebih ringan daripada vaksin Pfizer dan Moderna.