Ditemukan di RI, Ini 4 Fakta Mutasi Corona N439K

Tasya Paramitha, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Beragam mutasi corona mulai terdeteksi di Tanah Air seperti B117 dan terbaru, N439K. Diakui pakar, mutasi COVID-19 ini berperan penting dalam penyebaran kasus yang semakin luas. Lantas, apa yang perlu diketahui tentang mutasi virus SARS-CoV-2 ini?

Menurut laporan Ketua Satgas PB IDI, Prof. Zubairi Djoerban, sebanyak 48 kasus mutasi N439K telah terdeteksi di Indonesia. Mutasi ini sendiri memiliki beberapa hal yang belum dipahami oleh masyarakat. Berikut faktanya.

1. Muncul pertama kali

Dijelakan Prof. Zubairi, mutasi N439K diduga muncul dua kali secara terpisah. Pertama kali di Skotlandia pada waktu awal pandemi. Lalu, kali kedua, dengan jangkauan lebih luas di Eropa dan saat ini sudah sampai Indonesia.

"N439K ini awalnya dianggap menghilang saat lockdown diberlakukan di Skotlandia. Tapi justru muncul di Rumania, Swiss, Irlandia, Jerman dan Inggris. Dus, mulai November tahun lalu, varian ini dilaporkan menyebar secara luas," paparnya, dikutip dari akun Twitternya.

2. Kelebihan mutasi N439K

Setiap mutasi akan menghasilkan suatu perubahan pada sifat virus. Dalam mutasi teranyar ini, dianggap lebih 'smart' lantaran tak mempan dilawan oleh sistem imunitas.

"Yang paling disorot dari N439K adalah sifatnya yang resistans terhadap antibodi alias tidak mempan. Baik itu antibodi dari tubuh orang yang telah terinfeksi, maupun antibodi yang telah disuntikkan ke tubuh kita," paparnya lagi.

Lebih lanjut, kata Prof Zubairi, dikatakan Gyorgy Snell, Direktur Senior Biologi Struktural di Vir Biotechnology California, N439K punya banyak cara mengubah domain imunodominan untuk menghindari kekebalan (tubuh manusia), sekaligus mempertahankan kemampuannya untuk menginfeksi orang.

3. Obatnya belum ditemukan

Memang belum ada obat khusus untuk mengatasi COVID-19. Namun, obat tertentu mampu membuat sistem kekebalan tubuh meningkat sehingga virus perlahan mati. Sayangnya, obat yang kerap digunakan tak mempan pada mutasi teranyar itu.

"Amerika Serikat mencoba antisipasi N439K ini. Mereka mengeluarkan EUA untuk dua jenis obat antibodi monoklonal dalam pengobatan Covid-19. Tapi, yang jadi soal, N439K ini tidak mempan diintervensi oleh obat itu," ujar Prof. Zubairi.

4. Pencegahan

Kendati demikian, Prof Zubairi menekankan bahwa secara catatan epidemiolog, penyebaran N439K tidak secepat B.1.1.7. Ia pun berharap teori tersebut dapat terbukti. Namun, pencegahan penularan tentu harus dilakukan.

"Pesan saya, tetap jaga jarak, pakai masker dan hindari kerumunan, apalagi di dalam ruangan. Jangan bosan saling ingatkan. Pandemi belum usai," tegasnya.