Djokovic Kecam Invasi Militer AS ke Suriah

TRIBUNNEWS.COM – Sangat jarang petenis yang berani berbicara masalah politik internasional. Rata-rata mereka hanya bicara tentang teknis permainan, atau gaya hidup. Novak Djokovic membongkar tabu tersebut. Dengan lantang ia menentang rencana invasi Amerika Serikat (AS) ke Suriah. Kenapa?

Jangan pernah sok tahu berbicara tentang situasi dan kondisi perang kepada Novak Djokovic. Pasalnya, petenis nomor satu dunia asal Serbia ini pernah menjadi korban saat terjadi perang di Serbia.

Djokovic masih berusia 12 tahun saat pihak NATO yang disponsori AS melakukan pengeboman selama 78 hari terhadap wilayah Serbia untuk memaksa pimpinan Serbia, Slobodan Milosevic, menyerah. Milosevic sendiri telah melakukan pembantaian terhadap etnis Albania di wilayah itu.

Bukan hal mudal baginya melupakan pengalaman mencekam tersebut. Terlebih, tempat tinggalnya pernah jadi sasaran bom. Keluarganya panik seketika. Untungnya mereka tetap baik-baik saja. Toh, ia dihantui mimpi buruk setelah itu, dan karenanya jadi trauma dengan segala macam hal yang berbau peperangan.

"Itulah masa yang terberat buat saya dan teman dan kolega sebangsa dari Serbia. Masa dalam hidup yang kami harap tak pernah terjadi pada orang lain," kata Djokovic dalam wawancara yang dimuat di situs resmi Amerika Serikat Terbuka.

Karena itulah, ia dengan tegas menentang rencana penyerangan AS bersama sekutunya ke Suriah. Menurut petenis peringkat satu dunia ini, setiap perang ataupun serangan udara terhadap wilayah tertentu akan selalu mengingatkannya pada peristiwa mengerikan di masa kecilnya. "Saya sama sekali menentang penggunaan senjata dalam bentuk apa pun, setiap serangan udara ataupun peluru kendali," kata Djokovic.

Wartawan memang sama sekali tidak bertanya langsung mengenai rencana tindak militer terhadap Suriah. Namun, seorang wartawan memang meminta pendapat Djokovic tentang apa yang terjadi di wilayah itu.

Djokovic kemudian bercerita pengalamannya merasakan situasi perang saudara saat masa kanak-kanak di Belgrade. "Kami di Serbia merasakan hal tersebut secara langsung. Suatu masa yang semua orang tak ingin merasakan pengalamannya," katanya.

Namun Djokovic tak ingin hanya melihat sisi negatif dari peristiwa mengerikan itu. Dia memilih mengambil hikmahnya. "Itu membuat kami lebih kuat. Lebih kuat dari yang lain. Anda tahu, itu terjadi selama 2,5 bulan. Kami melihat sisi positifnya. Kami masih anak-anak. Kami baru berusia 12 tahun," ujarnya mengenang.

"Jadi, kami berpikir, oke kami tak diizinkan pergi ke sekolah, kami bisa lebih banyak bermain tenis. Jadi, kami berlatih tenis setiap hari selama dua bulan itu dengan pesawat tempur terbang di atas kepala kami. Kami tak terlalu memikirkannya," tuturnya lagi.

"Satu atau dua pekan setelah ledakan bom itu, kami hanya berpikir untuk segera memperbaiki hidup kami. Kami melakukan apa pun yang kami inginkan dan kami bisa. Kejadian itu bukan atas kendali kami. Kami tak mendapatkan bantuan, tapi beruntungnya kami bisa bertahan," katanya.

"Kami telah melalui dua kali perang. Ketika Anda berpaling ke belakang dan menganalisis apa yang telah Anda lalui, Anda akan lebih menghargai sesuatu dalam hidup," ujar Djokovic

Ia kemudian berkomitmen ikut membangun, dan memperbaiki citra Serbia yang berkali-kali hancur oleh perang. Salah satu proyek terbesarnya adalah membangun kompleks tenis untuk Serbia Terbuka. Kompleks itu terdiri atas kafe serta lima lapangan tanah liat bertaraf internasional, dan terbaik di seantero wilayah Balkan.

Djokovic juga mendatangkan seri tenis bergengsi ke Serbia yang selama ini terkesan tertutup. Ia mengabarkan kepada dunia bahwa Serbia telah berbeda dan nyaman untuk dikunjungi melalui tenis. Tak heran, ia pun kini didapuk sebagai pahlawan Serbia.

Djokovic lantas menandaskan, dalam sebuah perang, sebenarnya tak ada yang bisa disebut sebagai pemenang. Yang ada hanyalah rakyat yang jadi korban. "Karena itulah saya menentang sama sekali tindak penghancuran, dengan dalih apapun. Saya memiliki pengalaman pribadi mengenai masalah ini. Saya tahu ini sama sekali tidak membawa kebaikan buat siapa pun," ungkap petenis yang kini jadi duta UNICEF untuk negaranya tersebut. (Tribunnews.com/den)

Baca Juga:

Menang Mudah, Novak Djokovic ke Perempat Final

Novak Djokovic Melaju ke Babak Keempat

Pantang Makan Cokelat, Rahasia Sukses Djokovic Jadi Petenis Nomor 1 Dunia

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.