DKB Modifikasi Ferry ASDP Asal Inggris

  • AEKI: Tiongkok Pasar Kopi Potensial Bagi Indonesia

    Antara

    Jakarta (Antara) - Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) menyatakan Tiongkok merupakan pasar potensial ekspor biji kopi Indonesia dengan perkiraan rata-rata pertumbuhan per tahun mencapai 20 persen. "Dalam waktu lima hingga 10 tahun medatang, Tiongkok akan menjadi pasar strategis bagi Indonesia, kita akan terus perhatikan karena memang potensial untuk masa mendatang," kata Ketua Umum AEKI, Irfan Anwar, saat berbincang dengan wartawan di Jakarta, Selasa. ... …

  • 'Tokoh' Malaysia lebih peduli kreator mobil listrik Indonesia

    'Tokoh' Malaysia lebih peduli kreator mobil listrik Indonesia

    Merdeka.com
    'Tokoh' Malaysia lebih peduli kreator mobil listrik Indonesia

    MERDEKA.COM. Pada 22 November 2013, hati Ricky Elson berbunga-bunga. Kerja kerasnya bersama puluhan anggota tim bengkel modifikasi Kupu-Kupu Malam mendapat apresiasi dari pemerintah. Dua unit mobil listrik mereka, dinamai Gendis dan Selo, ditengok oleh Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta di pelataran Universitas Gadjah Mada. …

  • ASUS Luncurkan Tiga Zenfone Sekaligus

    ASUS Luncurkan Tiga Zenfone Sekaligus

    Jagat Pintar
    ASUS Luncurkan Tiga Zenfone Sekaligus

    Produsen asal Taiwan, ASUS, menggebrak pasar ponsel kelas menengah dengan meluncurkan tiga seri Zenfone sekaligus. Mereka adalah Zenfone 4, Zenfone 5 dan Zenfone 6. Ketiga ponsel tersebut mengusung prosesor buatan Intel, Atom. …

Jakarta (ANTARA) - PT Dok Kodja Bahari (DKB) melakukan modifikasi terhadap empat unit kapal ferry milik PT Angkutan Sungai, Danau dan Perairan (ASDP) yang diimpor dari Inggris.

Direktur Pemeliharaan dan Perbaikan PT DKB Bambang Wibisono di Jakarta, Selasa mengakui bahwa satu unit ferry milik ASDP asal Inggris itu sedang docking di Galangan I DKB untuk dilakukan modifikasi pada badan ferry tersebut.

"Ya, mereka (ASDP) `kan baru beli kapal dan memang untuk Pelabuhan Merak itu butuh spesifikasi yang harus disesuaikan dari negara asalnya, Inggris," katanya.

Dia menjelaskan, modifikasi yang dilakukan DKB antara lain desain pintu untuk jalur keluar masuk mobil ke dalam dan keluar ferry atau disesuaikan dengan pelabuhan tempat ferry itu beroperasi.

"Itu yang utama mereka minta untuk DKB lakukan. Kapalnya disesuaikan dengan pelabuhannya, dimodifikasilah, desain terutama untuk bongkar muat. Supaya sesuai dengan Pelabuhan Merak," katanya.

Bambang Wibisono mengatakan, PT DKB siap untuk membangun dan memproduksi kapal besar berukuran panjang hingga 120 meter dan lebar 30 meter.

Penggunaan teknologi canggih, tambahnya, akan menjadikan kapal produksi DKB mampu bersaing di tingkat internasional.

"Kami sudah siap untuk membangun kapal-kapal besar dengan panjang sekitar 120 meter. Bahkan, kami juga menawarkan kapal itu sudah sesuai dengan karakter Indonesia, kebutuhan Indonesia, dan karakteristik penumpang Indonesia. Semuanya sudah kita sesuaikan," kata dia.

Menurut dia, saat ini kapal ferry terpanjang di Indonesia berukuran di bawah 100 meter, sedangkan galangan kapal DKB mampu membangun kapal dengan panjang hingga 120 meter.

Bambang menuturkan, pihaknya tengah membangun 3 unit kapal pesanan TNI Angkatan Laut senilai Rp500 miliar yang dilengkapi dengan teknologi canggih dan sistem permesinan yang komprehensif.

Terkait maraknya impor kapal ferry bekas yang dilakukan berbagai perusahaan pelayaran milik pemerintah maupun swasta, Bambang menegaskan, pihaknya sudah sangat siap untuk membuat kapal sekelas ferry.

Menurut dia, dari sisi teknologi, ferry digolongkan sebagai kapal yang pembangunannya tidak sulit, apalagi ferry untuk penyeberangan.

Sementara itu, Wakil Ketua Badan Anggaran DPR RI Olly Dondokambey menyesalkan, sikap ASDP yang lebih memilih membeli ferry bekas dari Inggris.

Padahal, lanjutnya, produksi dalam negeri sudah mampu bersaing dengan produk luar negeri, apalagi, setelah ferry didatangkan ke Indonesia, ternyata malah harus dilakukan modifikasi badan ferry untuk penyesuaiannya terhadap pelabuhan di Indonesia.

Olly menyatakan, ASDP telah melakukan kesalahan berlapis yakni tidak menjalankan asas Cabotage dalam mendukung industri galangan kapal domestik kemudian ferry bekas itu masih perlu dimodifikasi lebih dulu sebelum dioperasikan di Indonesia.


Selain itu, manajemen ASDP tidak bersedia mendukung pertumbuhan industri galangan kapal nasional, dengan melakukan impor ferry bekas.

"Padahal, jika saja ASDP menggunakan ferry produk galangan kapal dalam negeri, otomatis tidak perlu lagi dilakukan modifikasi body-nya, sebab galangan kapal dalam negeri pasti memahami struktur pelabuhan di seluruh Indonesia," katanya.

Artinya, tambahnya, tidak perlu lagi ada biaya tambahan untuk modifikasi body ferry bekas itu, sebab jika 1 unit ferry butuh Rp8 miliar, jika 4 unit ferry maka sebesar Rp 32 miliar.

"Itu kan cost sia-sia yang tidak perlu keluar jika menggunakan produk dalam negeri," katanya.

Senada dengan itu, pengamat ekonomi Indef Ahmad Erani Yustika mengatakan, masalah komitmen setiap Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menggunakan produk dari industri dalam negeri, dapat diterobos melalui konsensus politik untuk memprioritaskan BUMN.


"Yang harus dilakukan adalah memastikan bahwa BUMN tersebut, dalam hal ini DKB mampu memproduksi kapal dengan mutu yang baik. Sehingga dapat dipertanggungjawabkan kepada seluruh rakyat Indonesia," katanya.(ar)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Memuat...