DKI Bangun Tempat Pengolahan Sampah di Dalam Kota

Agus Rahmat, Syaefullah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, ingin sampah-sampah di Ibu Kota bisa langsung diolah. Maka fasilitasnya harus dibangun. Untuk mengurangi pembuangan sampah-sampah yang kini masih menjadi problem.

Pemprov memiliki rencana pembangunan Fasilitas Pengelolaan Sampah Antara (FPSA) di dalam kota atau Intermediate Treatment Facility (ITF). Rencannya, empat ITF di Ibu Kota akan dibangun.

Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, Syaripudin, menjelaskan fasilitas ini nantinya diharapkan dapat mengurangi volume sampah dengan pengolahan. Yakni berbasis teknologi yang tepat guna, teruji, dan ramah lingkungan, serta dapat menghasilkan energi terbarukan yang memiliki kemanfaatan umum atau nilai tambah.

Baca juga: Pengemudi Mercy yang Tabrak Pesepeda di HI Terancam 3 Tahun Bui

Ia merinci, adapun titik lokasi ITF yang dibangun, yakni ITF Sunter sebagai pusatnya. Berdasarkan Pergub Nomor 33 tahun 2018 penugasannya kepada PT Jakarta Propertindo.

Lalu ITF Wilayah Layanan Barat berdasarkan Pergub Nomor 65 tahun 2019, yang juga diserahkan pembangunannya kepada PT Jakarta Propertindo.

"Serta ITF Wilayah Layanan Timur dan Selatan berdasarkan Pergub Nomor 71 tahun 2020 penugasannya kepada Perumda Sarana Jaya,” kata Syaripudin di Jakarta, Jumat, 12 Maret 2021.

Lebih lanjut, kata dia, ITF Wilayah Layanan Barat direncanakan akan mengolah sampah sebesar 2.000 ton per hari dengan efisiensi 80 persen. Untuk pembangunan ITF Wilayah Layanan Barat, PT Jakpro bekerja sama dengan konsorsium PT Wijaya Karya (WIKA) - PT Indoplas Karya Energi (Indoplas).

"Proses pemilihan mitra ini sudah dilaksanakan sesuai dengan prosedur, terbuka dan transparan karena dipublikasikan di media massa," ujarnya.

Untuk ITF di Wilayah Layanan Timur dan Selatan, diperkirakan mampu mereduksi sampah sebanyak 70-90 persen. Ditambah lagi dengan ITF Sunter sebagai pusatnya yang mampu mengurangi sampah sebanyak 2.200 ton per hari dan menghasilkan energi listrik sebesar 35 Mega Watt.

Fasilitas pengelolaan sampah tersebut nantinya dapat meminimalkan ketergantungan daerah terhadap Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di luar daerah.

“Pengolahan dan pemanfaatan sampah di berbagai wilayah tersebut diharapkan menjadi salah satu solusi atas volume sampah di TPST Bantar Gebang. Selain itu, proyek ini juga mampu menjadi salah satu upaya untuk memanfaatkan sampah menjadi listrik yang bermanfaat bagi masyarakat Jakarta,” ungkapnya.