DKI nyatakan tak ada nakes yang alami kelelahan mental selama pandemi

Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyatakan tidak ada tenaga kesehatan yang mengalami kelelahan mental selama pandemi COVID-19 melanda Ibu Kota berkat layanan pendampingan psikolog klinis yang kerap dilakukan.

"Sejauh ini tidak ada tenaga kesehatan yang mengalami gangguan mental atau kejiwaan ringan hingga berat," kata Kepala Bidang Kepala Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Dwi Oktavia di Jakarta, Kamis.

Dwi mengungkapkan sampai saat ini 22 puskesmas tingkat kecamatan di Jakarta sudah dilengkapi psikolog klinis, lantas 22 puskesmas kecamatan lainnya memiliki tenaga pengelola program kesehatan jiwa.

Total di Jakarta saat ini memiliki 44 puskesmas tingkat kecamatan dan 301 puskesmas tingkat kelurahan.

Layanan psikolog klinis dan tenaga pengelola program kesehatan jiwa tidak hanya untuk tenaga kesehatan tetapi juga kepada masyarakat baik secara langsung maupun daring melalui program "Sahabat Jiwa".

Selama hampir 2,5 tahun pandemi COVID-19, sebagian besar tenaga kesehatan di DKI, kata dia, mengalami kecemasan dan kelelahan terutama ketika varian Delta pada Juli 2021.

Untuk mengatasi hal itu, lanjut dia, pihaknya memberikan layanan konseling untuk memotivasi hingga relaksasi untuk meredakan stres atau kelelahan baik yang dilakukan secara langsung atau daring.

"Ada sesi bagaimana tenaga kesehatan mengurangi kecemasan, relaksasi melalui aplikasi zoom, tentang teknik tarik nafas dan lainnya yang dilakukan psikolog, psikiater atau konselor yang membuat kelas daring," imbuhnya.

Pemprov DKI mencatat selama pandemi COVID-19 sebanyak 37 tenaga kesehatan meninggal dunia karena terpapar COVID-19.

Nama mereka kemudian diabadikan di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Phinisi di Karet Sudirman, Jakarta.

Sebelumnya, berdasarkan penelitian yang dilakukan tim peneliti dari Program Studi Magister Kedokteran Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (MKK FKUI) menunjukkan fakta sebanyak 83 persen tenaga kesehatan di Indonesia pada 2020 telah mengalami burnout syndrome atau keletihan mental.

Adapun derajat keletihan mental itu dari sedang dan berat yang secara psikologis berisiko mengganggu kualitas hidup dan produktivitas kerja dalam pelayanan kesehatan.
Baca juga: Pemkot Jakbar anjurkan seluruh calon ibu periksa kesehatan cegah HIV
Baca juga: Pemkot Jaksel imunisasi 21.352 bayi sampai dengan Agustus 2022
Baca juga: 70 persen penyebab tengkes di Jakbar bukan faktor kesehatan