DLH DKI bentuk forum kolaborasi lingkungan hidup

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta membentuk forum kolaborasi sebagai upaya bersama melibatkan masyarakat dan lembaga dalam menanggulangi sampah untuk mendukung lingkungan hidup berkelanjutan di Ibu Kota.

"Isu lingkungan hidup tidak hanya menjadi tanggung jawab DLH, pemprov tapi menjadi tanggung jawab kita semua," kata Kepala DLH DKI Jakarta Asep Kuswanto setelah membentuk forum kolaborasi lingkungan hidup di Jakarta, Rabu.

Wadah kolaborasi itu melibatkan dunia usaha, organisasi non pemerintah, akademisi hingga institusi keuangan selaku kolaborator dan agregator lingkungan hidup yang mencapai 45 institusi.

Asep menjelaskan, forum kolaborasi sosial berskala besar itu nantinya dapat memberikan masukan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam pengelolaan lingkungan hidup serta mendukung rencana kerja pemerintah dengan aksi mandiri maupun kolaborasi.

Selain itu, mengajak peran pemangku kepentingan untuk berpartisipasi dalam mendukung pengelolaan lingkungan hidup.

Baca juga: Jakpro sebut ITF Sunter hasilkan listrik 35 MW per jam

Agar tugas lebih efektif, forum tersebut sudah dibagi lebih spesifik berdasarkan tiga klaster, yakni persampahan, perubahan iklim dan klaster udara dan air.

Selain itu, mereka juga dibagi kelompok kerja mulai dari pengurangan hingga penanganan sampah.

Nantinya, kelompok kerja itu menyusun rencana kerja masing-masing untuk menjamin keberlanjutan program pengelolaan lingkungan hidup.

Asep mengapresiasi keterlibatan kolaborator yang peduli soal pengelolaan lingkungan hidup karena awalnya hanya berjumlah 21 instansi dan saat ini bertambah menjadi 45 instansi sebagai kolaborator dan agregator.

Sebelumnya, selama 2021-2022 kolaborator tersebut memberikan 236 kegiatan pengelolaan lingkungan hidup di antaranya terkait pengelolaan sampah, pemilahan serta edukasi kepada masyarakat dengan total bantuan mencapai Rp2,6 miliar.

Baca juga: Pemprov DKI ingin pengelolaan TPST Bantargebang jadi contoh di G20

Berdasarkan data DLH DKI, setiap hari DKI Jakarta menghasilkan sampah diperkirakan 7.800-8.000 ton yang dikirim ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi, Jawa Barat.

Asep menambahkan total timbunan sampah di TPST Bantargebang diperkirakan sudah mencapai sekitar 50 juta meter kubik (m3) dengan ketinggian sekitar 50 meter.

Untuk mengurangi itu, DKI sedang membangun fasilitas pengolahan sampah di TPST Bantargebang untuk mengurangi timbunan sampah.

Selain itu, Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Antara (ITF) juga rencananya
​​​​​​dibangun. Salah satunya di Sunter, Jakarta Utara, yang ditargetkan mengurangi sekitar 30 persen kiriman sampah ke TPST Bantargebang.


Dari sisi masyarakat, pihaknya melakukan edukasi terkait pengurangan, pemilahan dan pengolahan sampah dari rumah tangga.