DNA bisa gantikan barcode untuk tag seni dan surat suara pemilu

·Bacaan 2 menit

Paris (AFP) - Barcode dan kode QR yang mudah dihapus yang digunakan untuk men-tag atau menandai segala sesuatu mulai dari kaos oblong hingga mesin mobil akan segera diganti dengan sistem tagging berdasarkan DNA dan tidak terlihat oleh mata telanjang, kata para ilmuwan, Kamis.

Sistem berbasis DNA ini bisa membantu upaya anti pemalsuan, menurut peneliti yang mengatakan pencuri kesulitan menemukan atau merusak percikan transparan DNA pada barang berharga atau rentan, seperti surat suara pemilu, karya seni, atau dokumen rahasia.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam Nature Communications, para peneliti University of Washington dan Microsoft mengatakan bahwa sistem tagging molekuler yang disebut Porcupine itu, tidak seperti kebanyakan alternatif, adalah hemat biaya.

"Menggunakan DNA untuk men-tag objek tak terpikirkan di masa lalu karena mahal dan memakan waktu untuk menulis dan membacanya, serta membutuhkan peralatan laboratorium yang mahal," kata penyusun utama penelitian dan seorang mahasiswa doktoral Universitas Washington Katie Doroschak kepada AFP.

Porcupine mengatasi hal ini dengan membuat fragmen DNA yang bisa dicampur sesukanya oleh pengguna demi membuat tag baru, kata para peneliti.

"Alih-alih gelombang radio atau garis cetak, skema tagging Porcupine tergantung kepada serangkaian strand DNA berbeda-beda yang disebut bit molekuler atau disingkat 'molbit'," kata University of Washington dalam satu pernyataan.

"Untuk mengkodekan ID, kami memasangkan setiap bit digital dengan molbit," jelas Doroschak.

"Kalau bit digitalnya 1, kita tambahkan molbitnya ke tag, dan kalau 0 kita biarkan saja. Lalu kita bisa mengeringkannya sampai nanti siap didekodekan," kata Doroschak.

Begitu item sudah di-tag, item tersebut kemudian bisa dikirim atau disimpan.

Ketika orang ingin membaca tag, air ditambahkan untuk merehidrasi tag molekuler, yang dibaca oleh sekuenser nanopori, yakni perangkat pembaca DNA yang lebih kecil dari iPhone.

"Nama Porcupine berasal dari permainan kata-kata (PORE-cupine, seperti di nanopore) dan gagasan bahwa porcupine bisa "men-tag' objek-objek, dan objek yang berani terlalu dekat," kata penulis utama.

Tidak seperti sistem yang ada untuk men-tag objek, tag DNA tidak dapat dideteksi dengan penglihatan atau sentuhan, kata penulis senior Jeff Nivala dalam siaran pers dari Universitas Washington.

"Praktisnya, ini berarti tag-tag ini sulit dirusak."

"Anda bisa membayangkan tagging molekuler digunakan untuk melacak surat suara pemilih dan mencegah gangguan dalam pemilu mendatang," kata Nivala.

Teknologi berbasis DNA itu mungkin juga bisa menandai item-item yang barcode-nya akan sulit diperbaiki.

"Tidak mungkin menandai kapas atau serat lain dengan metode konvensional seperti tag RFID dan kode QR, tetapi tag berbasis DNA likuid dapat digunakan sebagai tabir," kata Doroschak.

"Ini bisa membantu rantai pasokan di mana penelusuran asal penting untuk mempertahankan nilai produk," tambah dia.