Doa dan Selawat, Cara Warga Tegalgubug Cirebon Tangkal Wabah Covid-19

Liputan6.com, Cirebon - Baritan merupakan salah satu tradisi warga Desa Tegalgubug Lor Kabupaten Cirebon tiap kali ada persoalan besar melanda, seperti wabah penyakit misalnya.

Warga Tegalgubug Lor turun memadati jalanan, Selasa malam (17/3/2020). Mereka menggelar tradisi Baritan, sebagai ungkapan doa dan tolak bala terhadap wabah virus corona Covid-19 di Indonesia, termasuk Cirebon.

Dari anak-anak hingga dewasa, mereka saling bahu-membahu memberi dukungan dan berdoa agar wabah corona Covid-10 tidak semakin menyebar.

"Ini sudah tradisi di desa kami dan memang sudah mendapat izin dan persetujuan semua pihak," kata Kepala Desa Tegalgubug Lor Kabupaten Cirebon Dodo Widodo belum lama ini.

Dalam Baritan, mereka berjalan kaki dari halaman balai Desa Tegalgubug lor menuju jalan raya. Disambung dengan jemaah lain yang sudah siap ikut bersama-sama.

Namun demikian, Widodo tetap menegaskan agar masyarakat mengikuti imbauan dan aturan pemerintah terkait upaya pencegahan penyebaran virus corona covid-19, yakni menerapkan pola hidup sehat dan bersih dengan rajin mencuci tangan hingga menggunakan masker apabila sakit.

"Kami mendukung sekali pemerintah untuk melawan corona dengan dibarengi doa juga," ujar dia.

Tradisi Baritan, kata dia, telah mendapat dukungan banyak pihak baik dari tokoh masyarakat setempat hingga ulama. Menurut dia, virus corona covid-19 merupakan pandemi penyakit mengerikan yang harus dilawan bersama.

 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

Tradisi Turun-temurun

Suasana Baritan tradisi menangkal wabah penyakit ala warga Desa Tegalgubug Lor Kabupaten Cirebon beberapa minggu lalu. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)

Tokoh masyarakat setempat, Rifqiel Asyiq mengatakan, tradisi Baritan sudah ada sejak zaman nenek moyang warga Tegalgubug. Sebelum ada virus corona Covid-19, Desa Tegalgubug Kabupaten Cirebon pernah dilanda wabah yang mengakibatkan warga sakit hingga meninggal.

"Sekitar tahun 1990-an, nah wabahnya apa saya agak lupa tapi saya mengalami masa itu kemudian masyarakat menggelar tradisi ini dibarengi membaca Solawat Tho'un dan Alhamdulillah wabah hilang," ujarnya.

Dia menegaskan kegiatan tersebut tidak digelar rutin baik tahunan maupun bulanan. Tradisi tersebut digelar sekali di tengah wabah berbahaya seperti corona.

"Ini juga bukan ajang hura-hura ya dan kami sudah mengimbau agar tertib tetap mengikuti apa yang sudah pemerintah tetapkan," ujar sambung dia.

Dia menjelaskan, menjalankan tradisi dan berdoa hanya memperkuat kondisi psikologis agar masyarakat tidak panik dan takut. Namun, Rifqiel mengimbau upaya mencegah sebaran Covid-19 dibarengi dengan menjaga kebersihan.

Dari sisi agama, membaca selawat sangat baik agar terhindar dari penyakit dan segala wabah yang ada di dunia. Dia mengimbau agar masyarakat Cirebon tetap mengikuti anjuran pemerintah tentang pola hidup sehat.

"Seperti cuci tangah makan dan tidur teratur tetap kami ikuti dan kami bukan bermaksud memberi kesan melawan apa yang sudah pemerintah tetapkan mengenai siaga corona. Tradisi ini juga baik maksud dan tujuannya. Tradisi ini bukan hanya di Desa Tegalgubug di desa tetangga juga menjalankan hanya saja kebetulan desa kami populasi masyarakatnya banyak sehingga menjadi sorotan di media sosial," dia menandaskan.

 

Saksikan video pilihan berikut ini: