Doa Taruna Letjen TNI Prabowo di Tengah Prahara SBY Vs Moeldoko

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Saat ada Purnawirawan Perwira Tinggi (Pati) TNI Angkatan Darat yang tengah berseteru, Letjen TNI (Purn.) Johannes Suryo Prabowo justru mengingat sebuah doa yang seringkali diucapkannya. Doa Taruna, lantunan kalimat penyerahan diri dan harapan para calon prajurit Tentara Nasional Indonesia sat masih menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).

Perseteruan antara Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Susilo Bambang Yudhoyono, Mayor TNI (Purn.) Agus Harimurti Yudhoyono, dengan Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko, tengah memanas dalam beberapa pekan terakhir.

Menyaksikan prahara yang terjadi antara tiga orang purnawirawan yang berstatus peraih penghargaan Adhi Makayasa, penghargaan yang diberikan untuk lulusan terbaik Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), yang sekarang bernama Akademi Militer (Akmil).

Di sisi lain, Suryo Prabowo yang juga berstatus sebagai lulusan terbaik AKABRI 1976 justru memiliki pandangan lain dalam menyikapi prahara ketiga rekannya. Mantan Wakil Kepala Staf TNI Angkatan (Wakasad) dan Kepala Staf Umum (Kasum) TNI ini, seakan mengingatkan agar senantiasa memegang teguh sikap seorang perwira seperti yang tertuang dalam Doa Taruna.

Baik Suryo, SBY, Moeldoko, maupun AHY, tentu sangat mengetahui bagaimana Doa Taruna dilantunkan. Doa Taruna adalah doa yang senantiasa diucapkan oleh para perwira TNI, saat masih berstatus sebagai Taruna AKABRI atau Akmil.

Dikutip dari akun Instagram resmo Suryo Prabowo, berikut bunyi Doa Taruna:

"Ya Tuhan, berikanlah kepada kami taufik dan hidayahMu, agar dapat melakukan segala tugas tanggung jawab kami dengan sebaik-baiknya."

"Berikanlah kami kekuatan, untuk bersedia memilih jalan yang berat sukar tetapi luhur, daripada jalan yang ringan dan mudah tetapi hina. Amin."

Tak hanya itu, Suryo Prabowo pun menuliskan pernyataan dalam unggahannya itu. Dalam pernyataan tertulisnya itu, Suryo Prabowo meyakini bahwa seorang perwira TNI akan senantiasa dinilai berintegritas jika perbuatannya sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya, dan morlanya sesuai dengan etikanya.

"Ada banyak perwira yang mengibaratkan “Etika” itu sebagai Teori atau nilai/value, dan 'Moral' itu diibaratkan sebagai Praktek atau perbuatannya," tulis Suryo Prabowo.

"Oleh karenanya itu seseorang dinilai berintegritas bila perbuatannya sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya, atau moralnya sesuai dengan etikanya, atau satunya kata dengan perbuatan," lanjut pernyataannya.

Oleh sebab itu, seorang perwira TNI wajib senantuasa menjaga etika dan moral. Sebab, hal ini tertuang dalam Doa Taruna yang selalu dibaca saat seorang perwira itu masih berstatus sebagai Taruna Akademi Militer.

"Begitu pula dengan doa atau permohonan kepada Tuhan. Tentunya sulit dikomentari bila perbuatan seseorang sangat berbeda dengan doa yang hampir setiap hari diucapkannya semasa masih berstatus Taruna," bunyi pernyataan Suryo Prabowo, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Komite Industri Pertahanan (KKIP) Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI.