Dodol Betawi, Cemilan Lebaran yang Selalu Dicari  

TEMPO.CO, Jakarta - Saat hari raya lebaran, tak lengkap rasanya jika tak menghadirkan makanan spesial. Selain ketupat dan sayur opornya, bagi warga Betawi, lebaran kurang afdol tanpa menghidangkan dodol. Panganan berasa manis ini selalu dicari menjelang hari Idul Fitri.

Nani, salah satu pembuat dodol khas Betawi mengatakan, makanan olahannya selalu diburu jika Ramadan tiba, terlebih kalau hari raya sudah dekat. "Ya pasti, banyak yang beli," katanya ketika ditemui di rumahnya di Cidodol, Jakarta Selatan, Ahad 12 Agustus 2012.

Perempuan berusia 66 tahun ini bisa menjual 2 kwintal dodol pada saat Ramadan dan lebaran. Jumlah ini lebih banyak bila dibandingkan dengan hari biasa. "Kalau lebaran pasti habis," ucapnya.

Nani yang sudah 47 tahun menjadi pembuat dodol itu memberikan resep dodol. Bahan yang diperlukan adalah ketan giling, gula, santan, dan air pandan dicampur menjadi satu. Biar lebih matang, adonan itu perlu diaduk-aduk hingga 8 jam lamanya. Nani memperkerjakan 4 orang karyawan untuk membantunya. "Mereka yang ngaduk, saya tinggal mantau," ujar dia.

Dodol tersebut kemudian di bungkus dengan plastik memanjang seperti silinder. Setiap bungkus berisi sekitar setengah kilogram yang dia jual dengan harga Rp 22 ribu. Menurut Nani, dodol Betawi olahannya berbeda dengan dodol lainnya.

Selain lebih awet tanpa menggunakan pengawet buatan, panganan tradisional ini juga menggunakan gula kawung, bukan gula pasar seperti kebanyakan dodol lainnya. Menurut Nani, gula tersebut tak terlalu manis dan lebih enak. "Jadi kalau dibikin makanan juga enak," kata nenek dengan 16 cucu tersebut.

Ulyah ,56 tahun, salah satu penikmat dodol Nani mengatakan selalu menyediakan panganan tersebut saat lebaran. Selain untuk hidangan, dodol itu juga dijadikan hantaran bagi tetangga dan kerabatnya. "Sudah tradisi," kata warga Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat itu.

Selain dodol, kata Ulyah, pada hari raya juga banyak cemilan lain yang disajikan. Seperti tape uli, wajik, geplak, sagon, kembang goyang, akar kelapa, kue satu dan noga. "Kalau tradisi di Betawi begitu," kata dia.

NUR ALFIYAH

Berita Lain:

Dukungan PKS Dinilai Mencurigakan

Isu SARA Foke Unggul, Isu Perubahan Jokowi Menang

Ditinggal PKS, Jokowi Pasrah

Ini Strategi Foke-Nara di Putaran Kedua Pilgub DKI

Jokowi Kaget Terima Penghargaan dari Bangkok

Kubu Jokowi Mengaku Siap Dikeroyok

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.