Dokter anjurkan olahraga kardio untuk jaga kesehatan jantung

Dokter spesialis kedokteran olahraga dr. Antonius Andi Kurniawan, Sp.KO menganjurkan orang-orang dalam kondisi bugar melakukan olahraga kardio secara rutin sehingga kesehatan jantung tetap terjaga dan terhindar dari risiko penyakit jantung di kemudian hari.

“Olahraga itu sangat baik untuk kesehatan jantung. Terutama olahraga yang bersifat kardio, penelitian menyatakan bahwa ketika kita berolahraga (kardio) 30 menit sehari lima kali dalam seminggu, itu akan menurunkan secara signifikan risiko penyakit jantung di kemudian hari,” kata Andi dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga (PDSKO) saat dihubungi ANTARA melalui sambungan telepon di Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan olahraga yang bersifat kardio dapat membantu meningkatkan kekuatan serta kebugaran jantung dan paru-paru. Ketika otot berkontraksi dan bergerak, maka jantung, pembuluh darah, dan paru-paru mengirimkan oksigen ke seluruh tubuh. Peningkatan kadar oksigen itu akan mendorong seseorang menjadi lebih berenergi dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

“Ketika seseorang bugar, maka sekali pompa jantung itu, oksigen yang akan ditransporkan ke seluruh tubuh akan semakin banyak. Ketika seseorang rajin berolahraga, maka otot jantung akan lebih kuat dan kebugarannya akan lebih meningkat sehingga produktivitas atau efisiensi saat kita melakukan aktivitas fisik dan bekerja menjadi lebih meningkat juga,” kata Andi.

Baca juga: Ahli: Olahraga bukan penyebab seseorang alami serangan jantung

Contoh olahraga kardio yang dapat dilakukan untuk peningkatan fungsi jantung, yaitu mulai dari aktivitas sederhana seperti berjalan kaki hingga olahraga lain seperti bersepeda, berenang, serta jogging atau lari santai apabila seseorang tidak memiliki masalah pada sendi.

Andi mengatakan lari maraton juga sebetulnya bermanfaat untuk kesehatan jantung mengingat seorang pelari jarak jauh tentunya harus memiliki kebugaran otot jantung.

Namun demikian, ia menekankan agar masyarakat tidak melakukan olahraga yang berlebihan karena dapat menimbulkan risiko penyakit jantung serta hal-hal yang tidak diinginkan.

“Penting bagi kita berolahraga sesuai dengan kemampuan kita, kondisi kita, dan tidak boleh berlebihan, dan sesuai dengan kapasitas yang kita miliki,” katanya.

Andi juga mengingatkan agar masyarakat dalam kelompok usia di atas 35 tahun untuk selalu melakukan pemeriksaan klinis (medical check up) secara rutin sehingga dapat mengetahui kondisi tubuh, termasuk lebih memperhatikan kadar kolesterol, kadar gula, dan fungsi jantung.

“Penyebab penyakit jantung itu salah satunya adalah kolesterol (tinggi) dan obesitas. Jadi, kalau misalnya kolesterolnya semakin tinggi, obesitasnya semakin berat, maka risiko penyakit jantungnya jadi lebih berat,” ujarnya.

Baca juga: Mengenal penyakit jantung koroner dan penanganannya

Pemeriksaan klinis bermanfaat agar seseorang dapat menyesuaikan jenis olahraga yang sesuai dengan kondisi kesehatannya saat ini, apalagi bagi yang memiliki riwayat penyakit jantung.

Ia menekankan perlunya kehati-hatian dalam memilih olahraga yang tepat bagi penderita penyakit jantung.

“Mereka (penderita, red.) melakukan olahraga yang bersifat kardionya itu tidak boleh dengan intensitas yang berat. Kalau mereka yang punya penyakit jantung, biasanya direkomendasikan untuk melakukan olahraga yang ringan sampai sedang saja. Kalau berat, dikhawatirkan menyebabkan henti jantung atau kondisi jantungnya tidak kuat untuk melakukan olahraga tersebut,” kata dia.

Andi menganjurkan agar penderita benar-benar memonitor penyakit jantungnya, termasuk kadar kolesterol hingga kadar gula secara berkala.

Sebelum memilih olahraga, penderita juga dianjurkan untuk melakukan tes atau pemeriksaan lain, seperti tes treadmill untuk mengukur kemampuan jantung saat menjalankan aktivitas fisik, serta tes elektrokardiogram (EKG) untuk mengukur aktivitas listrik jantung.

Baca juga: Layanan kateterisasi jantung ditargetkan jangkau 207 kabupaten/kota
Baca juga: Menkes targetkan seluruh provinsi miliki RS rujukan jantung pada 2024