Dokter Beberkan Bukti Semua Vaksin COVID-19 Efeknya Sama

·Bacaan 2 menit

VIVA – Seorang dokter di Filipina yang memiliki spesialisasi dalam penyakit dalam dan menular sekaligus Kepala Tim Inti HIV/AIDS di Chinese General Hospital and Medical Center, Dr Anne Gabriel-Chan memberikan penjelasan bagaimana vaksin COVID-19 berbeda memberikan perlindungan yang berdasarkan pengalamannya sendiri.

Menurut laporan Manila Bulletin, Dr Anne Gabriel-Chan membagikan beberapa foto X-ray dada empat pasien yang terinfeksi COVID-19 di Facebooknya untuk mendorong orang-orang mendapatkan vaksin.

Dia pertama-tama menjelaskan bahwa tiga dari empat pasien itu memiliki gejala ringan hingga tidak bergejala dan sudah divaksinasi lengkap, sementara satu pasien belum divaksin dan mengalami sesak napas. Pasien yang tidak divaksin itu dirawat di ruang ICU.

Di dua foto pertama yang menunjukkan X-ray dari tiga pasien yang divaksin dengan jenis vaksin berbeda.

"Lihat foto-foto ini! Ada pneumonia yang sangat sangat ringan/minimal hingga x-ray dada yang hampir normal!!!" tulisnya.

Dia kemudian menambahkan, "Ini adalah pasien yang divaksinasi lengkap! Saat aku mengatakan divaksinasi lengkap, maksudku mereka sudah mendapat 2 dosis dan setidaknya 2 mingu dari vaksin dosis kedua."

Dua foto x-ray selanjutnya menunjukkan pasien yang tidak divaksin.

"Pasien ini datang dengan napas tersengal. Dia memiliki COVID yang parah, artinya dia punya kebutuhan oksigen yang sangat tinggi, butuh dirawat di ICU dan prosedur invasif seperti Hemoperfusion," tulisnya.

Dia menekankan pada area di foto x-ray di mana yang sebenarnya pneumonia.

Di foto selanjutnya, Dr Anne Gabriel-Chan mengingatkan masyarakat bahwa vaksin apapun yang tersedia bisa melindungi Anda dari COVID-19 yang parah dan dirawat di rumah sakit.

"Ya kamu masih bisa terkena COVID-19 bahkan setelah divaksin lengkap tapi kebanyakan ringan. Kamu akan lebih terlindungi dan mengurangi kemungkinan menjadi parah/masuk ICU #vaksinberhasil," tulisnya.

Dia juga menekankan bahwa semua vaksin memiliki tingkat perlindungan yang sama dan meminta untuk tidak melabeli vaksin dari negara tertentu palsu atau tidak berhasil.

"Tidak ada vaksin yang lebih unggul dari lainnya. Berhenti mengatakan vaksin dari AS adalah yang terbaik dan buatan China palsu/kualitas rendah. Ingat bahwa pasien-pasien ini mendapat vaksin dari merek dan platform berbeda tapi semuanya memiliki gejala ringan hingga hampir tidak ada sama sekali," lanjutnya.

"Semuanya telah memberikan manfaatnya - mencegah infeksi yang parah. Jadi daripada memihak tim Pfizer vs tim Sinovac - jadikan pola pikir kita: divaksin atau tidak! Jadi apapun yang tersedia di hari vaksinasi Anda, tolong lindungilah diri sebelum gelombang berikutnya datang! Varian Delta atau bukan, ini masih menjadi salah satu perlindungan paling efektif yang bisa kita miliki!" tambahnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel