Dokter Bedah: Orang aktif olahraga risiko tinggi alami cedera lutut

Dokter Spesialis Bedah Ortopedi dr. Adisa Yusuf R., SpOT(K) mengatakan atlet maupun orang yang aktif berolahraga memiliki risiko tinggi mengalami cedera lutut atau anterior cruciate ligaments (ACL) rupture.

"ACL ini biasanya diderita oleh orang yang aktif olahraga, terutama olahraga permainan, usia produktif ya, mulai dari 20-an sampai 50 tahun," kata Adisa Yusuf dalam acara bertajuk "HUT 103 RSCM - ACL Rupture, Perlukah Operasi?" yang diikuti di Jakarta, Senin.

Baca juga: Dokter: RICE pertolongan pertama untuk penderita cedera lutut

Menurut Adisa Yusuf, cedera ligamen ini biasanya karena salah mendarat setelah melompat atau terperosok ketika sedang berlari. "Sehingga, lututnya mengalami bunyi krek seperti itu. Kemudian nyeri sekali di lutut itu seperti terpuntir gerakannya. Itulah yang membuat ACL itu rupture," katanya.

ACL adalah ligamen yang berada di dalam lutut yang fungsinya menahan gerakan ke depan agar lutut tetap stabil.

"Jadi, ada di dalam lutut itu namanya ACL. Sayangnya ACL ini sering mengalami robek atau cedera saat seseorang itu sedang berolahraga atau beraktivitas fisik," kata dokter yang berpraktik di RSCM ini.

Pertolongan pertama bagi orang yang mengalami cedera lutut adalah dengan metode RICE, yakni istirahat, mengkompres lutut menggunakan es, lutut diperban menggunakan perban yang tidak terlalu ketat. Kemudian, pada saat tidur, kaki disangga dengan bantal.

Penanganan RICE ini dilakukan selama sepekan. Kemudian, pasien harus memeriksakan diri ke dokter ortopedi untuk mengetahui seberapa besar kerusakan pada ligamen.

Baca juga: Cedera lutut perlu ditangani dokter jika tak membaik usai istirahat

Baca juga: Jaga berat badan dapat kurangi risiko cedera olahraga

Dalam pemeriksaan dokter tersebut, pasien akan diminta untuk melakukan pemeriksaan penunjang dengan rontgen dan MRI.

"MRI lutut itu dilakukan untuk mencari apakah ACL pada pasien ini memang benar-benar robek atau mungkin ada struktur yang menyertainya, seperti miniskus atau bantalan atau mungkin tulang rawannya," katanya.

Bila hasil MRI menyatakan pasien mengalami rupture tingkat 3 atau rupture tingkat 2 dengan gejala (simptomatik), harus dilakukan operasi.