Dokter Boyke Ungkap Ketakutan Wanita pada Pria yang Tak Disunat

Tasya Paramitha, Sumiyati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Sirkumsisi atau lebih dikenal dengan sunat, sudah terbukti memiliki banyak manfaat. Khususnya bagi pria, sunat sendiri dapat menjaga kesehatan di sekitar organ intim hingga kebersihan yang lebih baik.

Di sisi lain, seksolog sekaligus praktisi kesehatan seksual, dr. H. Boyke Dian Nugraha, SpOG MARS, mengatakan, tak sedikit pasien wanita yang meminta agar pasangannya disunat.

Pria yang akrab disapa dokter Boyke itu turut menjelaskan, ada beberapa pertimbangan mengapa banyak wanita meminta pasangannya untuk disunat.

"Yang diminta wanita seringkali, satu dari sisi kesehatan. Yang kedua, wanita takut saat melakukan oral sex (jika pria tidak disirkumsisi)," ujar dr. Boyke, saat webinar bertajuk Menelisik Sunat Bagi Pria Dewasa yang digelar Forum Jurnalis Online (FJO) dan Hotel Aston, Kamis, 8 April 2021.

Boyke menambahkan, pada saat melakukan seks oral, si wanita harus menjilat kepala penis dari pasangannya. Sementara pada pria yang tidak disunat, ditakutkan ada kuman, virus HIV, dan sifilis. Sehingga risiko terkena penyakit kelamin dapat meningkat pada orang-orang yang melakukan oral seks.

"Oleh karena itu, wanita datang ke klinik untuk minta tolong agar suaminya disirkumsisi. Karena saya membaca, sebagian sperma dengan berbagai macam penyakit kelamin tinggal di situ. Makanya dianjurkan secara kesehatan," kata dia.

Kemudian secara estetika, Boyke mengatakan, banyak wanita mengaku pria yang disunat jauh lebih menggairahkan.

"Dari sisi kebersihan juga. Karena banyak sekali istilahnya pria yang jorok. Sehingga mereka-mereka yang tidak rajin membersihkan lebih baik disirkumsisi," tuturnya.

Lebih lanjut, menurut Boyke, dari sisi kesehatan juga sangat jelas. Berdasarkan hasil penelitian, pria yang disunat dapat menurunkan risiko terkena HIV/AIDS.

"Bahkan dikatakan orang yang tidak disirkumsisi, terkena GO-nya (gonore) empat kali lebih besar risikonya. Sementara untuk herpes dan penyakit kelamin, itu lima kali lebih besar pada orang-orang yang tidak disirkumsisi. Jadi, untuk estetika oke, kebersihan oke, untuk penyakit kelamin oke," lanjut dia.

Terakhir adalah pertimbangan atau manfaat dari sisi religius. Di mana dua agama, yaitu Islam dan Yahudi juga menganjurkan untuk melakukan sunat atau khitan ini.

"Itu adalah tradisi. Cuma kalau untuk pria it’s okay, tapi pada wanita yang jadi masalah. Pada beberapa wanita yang melakukan sirkumsisi, mereka jadi sulit mencapai orgasme, karena klitorisnya dipotong," kata dr. Boyke.