Dokter: Defisiensi vitamin D masih banyak ditemukan pada ibu hamil

Dokter spesialis kandungan dr. Aida Riyanti, Sp.OG mengatakan defisiensi atau kekurangan vitamin D masih banyak ditemukan pada ibu hamil di Indonesia.

“Padahal kita mudah mendapatkannya dengan keluar berjemur 15 menit, tapi terlalu sibuk mungkin pada jam-jam tersebut tidak bisa melakukan berjemur sehingga vitamin D nya banyak yang rendah,” ucapnya dalam diskusi mengenai mitos dan fakta seputar kehamilan yang diikuti secara daring di Jakarta, Jumat.

Pada trimester pertama, kata dia, pemeriksaan darah di laboratorium sangat penting untuk memeriksa kadar kecukupan vitamim D dan mengetahui adanya anemia atau infeksi yang tidak diharapkan.

“Untuk trimester awal tentunya kita perlu melakukan pemeriksaan darah untuk melihat apakah ibu hamil memiliki anemia, ada infeksi atau tidak seperti hepatitis kemudian kecenderungan gula darah tinggi yang bisa menyebabkan diabetes,” ucapnya.

Baca juga: Dokter: Siapkan kehamilan dengan gaya hidup sehat

Selain itu pemeriksaan rutin dengan ultrasonografi (USG) juga penting untuk melihat perkembangan janin. Pada kehamilan awal merupakan tahap pertumbuhan dan perkembangan semua organ, sehingga dengan USG dapat dilihat detak jantung dan indikasi yang mengarah ke kelainan pada tulang belakang.

Selain itu, USG juga perlu dilakukan untuk melihat kecenderungan apakah janin mengalami pertumbuhan yang terhambat sehingga berat badannya bisa dipantau agar sesuai yang diharapkan.

“Jadi intinya adalah ultrasonografi dan laboratorium itu dua hal yang bisa dilakukan untuk melihat apakah kehamilannya baik-baik saja,” ucap Aida.

Sementara itu menjawab mitos tentang kehamilan lainnya, Aida mengatakan bahwa ibu yang sedang hamil masih boleh melakukan kegiatan sehari-hari selama kehamilannya dinyatakan sehat dan tidak ada tanda-tanda dari tubuh seperti keram perut atau nyeri punggung.

Baca juga: Dokter sebut pentingnya kendalikan risiko kehamilan sebelum terlambat

“Hal-hal normal yang dilakukan sehari-hari itu boleh saja dilakukan tapi frekuensi dan lamanya itu harus kita batasi kita lihat bagaimana tubuh kita. Kalau ada tanda dari tubuh seperti keram perut atau nyeri punggung maka mungkin selanjutnya dikurangi frekuensinya ataupun lamanya,” ucap Aida.

Ia juga mengatakan saat hamil terjadi perubahan hormonal sehingga jaringan-jaringan penunjang otot-otot dan besar panggul juga berubah termasuk perubahan pada otot perut untuk menjaga keseimbangan, sehingga pada saat hamil sebaiknya jangan sering melakukan aktivitas mengangkat beban yang sangat berat

Jika akan mengangkat beban berat, usahakan dilakukan dengan cara yang benar dan ergonomis seperti menekuk lutut dan mendekatkan beban berat tersebut, dan usahakan punggung belakang tetap tegak sehingga tidak mengakibatkan cedera di daerah punggung.

Baca juga: Empat vitamin dan mineral wajib bagi ibu hamil

“Hal lain yang perlu diperhatikan adalah menghindari cedera karena sedikit saja kita salah itu bisa mengakibatkan sentakan di punggung belakang, itu yang harus diperhatikan,” ucapnya.