Dokter: Edukasi seksualitas penting untuk cegah pelecehan pada anak

Dokter spesialis anak dr. Annisa Nur Aini Sp.A mengatakan edukasi seksualitas penting diajarkan sedari dini untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual pada anak.

"Kekerasan seksual atau seperti pelecehan yang mungkin orang awam sudah mengetahui itu di anak-anak kasusnya makin banyak jadi perkenalkanlah pendidikan seksual agar anak-anak kita siap di kehidupan sosial," ucapnya dalam diskusi mengenai "Serba-serbi menjaga kesehatan reproduksi si kecil" yang diikuti secara daring di Jakarta, Selasa.

Pendidikan seksualitas usia dini, menurut dia, bisa dimulai dari ruang paling kecil yaitu keluarga inti sejak anak berusia dua hingga tiga tahun, agar nantinya ketika anak memasuki masa remaja tidak kaget dan bingung mengenai masalah reproduksi.

"Supaya nanti para guru, para dokter lebih nyaman juga untuk pendekatan masalah edukasi seksual atau organ reproduksinya," ucapnya.

Baca juga: TP UKS: Pendidikan reproduksi harus diajarkan guru semua pelajaran


Dokter dari RS Brawijaya Saharjo Jakarta ini mengatakan sebaiknya ketika orang tua mengajarkan edukasi organ intim kepada anak, disebutkan nama organ sesungguhnya dan bukan menggunakan bahasa lain.

"Dimulai dari anak balita usia dua sampai tiga tahun itu kita sudah mulai perkenalkan ini kamu perempuan punyanya vagina, kalau laki-laki punyanya penis, dan sebaiknya kalau bisa mengedukasi bagian organ intim itu tidak menggunakan bahasa lain," ucap dia.

Edukasi seksualitas ini, katanya, penting agar anak ketika masuk usia remaja dan mengalami pubertas tidak bingung dengan perubahan yang terjadi pada tubuhnya.

Dia mengharapkan edukasi tersebut membuat anak menjadi percaya diri serta dapat mengerti persoalan tindakan pelecehan seksual yang terjadi di sekitarnya.


"Jadi mereka sudah tahu bahwa setelah usia itu, ada area-area penting di tubuh saya baik dari payudara maupun sisi kemaluan tidak boleh ada yang menyentuhnya kecuali saya sendiri," katanya.

Baca juga: Unicef sebut edukasi menstruasi perlu bagi remaja putri
Baca juga: Isu kesehatan reproduksi perlu dipahami remaja