Dokter ingatkan vaksin bisa turunkan risiko kejadian pneumonia

Dokter spesialis pulmonologi dan kedokteran respirasi dr. Raden Rara Diah Handayani, Sp.P(K) mengingatkan bahwa vaksinasi pneumonia dapat menurunkan risiko terjadinya infeksi pneumonia terutama pada kelompok rentan.

“Pneumonia ini bisa dicegah, pencegahannya bermacam-macam. Tapi salah satu faktor yang sama pentingnya dengan vaksin COVID-19 adalah vaksin untuk pneumonia itu sendiri,” kata dokter dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) dalam webinar yang diikuti secara virtual di Jakarta, Kamis.

Dia menjelaskan vaksin pneumonia memiliki manfaat menurunkan risiko infeksi pneumonia 2,1 kali lipat dibandingkan dengan orang yang tidak divaksin. Selain itu, vaknisasi juga menurunkan risiko pneumonia berat yang memerlukan perawatan ICU dan menurunkan risiko kematian.

Diah mengatakan vaksin pneumonia wajib diberikan terutama pada kelompok anak dan dewasa di atas 65 tahun. Saat ini pemerintah sudah menyediakan vaksin tersebut secara gratis untuk anak. Namun vaksin belum diberikan secara gratis pada usia dewasa.

"Mengingat kejadian pandemi COVID-19 agar orang dewasa di atas usia 55 tahun atau sebelum 65 tahun dapat melakukan vaksinasi pneumonia untuk menghindari peradangan pada paru-paru yang lebih berat," katanya.

Baca juga: Kekebalan tubuh sangat berpengaruh pada risiko orang kena pneumonia

Baca juga: Kemenkes: Imunisasi PCV tanggulangi kematian balita akibat Pneumonia

“Memang pemerintah belum bisa menyediakan vaksin pneumonia secara gratis (untuk dewasa) tapi bukan berarti kita tidak divaksin. Sebaiknya ketika kita memiliki risiko pneumonia, kita datang ke pusat-pusat imunisasi seperti di RSUI untuk mendapatkan vaksinasi,” katanya.

Selain itu, kelompok berisiko lain yang direkomendasikan untuk vaksinasi pneumonia antara lain perokok, pengonsumsi alkohol, serta orang yang memiliki riwayat penyakit tertentu seperti gangguan paru-paru, stroke, hipertensi, diabetes, hingga gangguan ginjal.

Diah mengatakan vaksin pneumonia dapat diberikan kapanpun ketika seseorang dalam keadaan sehat. Khusus pada orang dengan penyakit tertentu atau komorbid, vaksinasi dapat dilakukan saat penyakit yang diderita pasien dalam keadaan terkontrol atau pada saat penyakitnya stabil.

“Tapi bisa saja, sih, misalnya seorang dengan stroke lalu mengalami pneumonia. Untuk mencegah pneumonia berulang, ketika dia sudah stabil maka sangat penting untuk diberikan vaksin pneumococcus,” kata Diah.

Dia mengatakan biasanya tidak ada pengulangan (booster) pada vaksin pneumonia, setidaknya seseorang pernah divaksin pneumonia sekali seumur hidup. Dikatakan vaksin pneumonia jenis PCV (pneumococcal conjugate vaccine) atau PCV13 masih ada yang perlu pengulangan namun setidaknya, menurut Diah, seseorang pernah mendapatkan satu kali vaksin.

Dia mengingatkan bahwa pemberian vaksin pneumonia bukan berarti membuat seseorang menjadi kebal dari penyakit pneumonia, akan tetapi mencegah sakit supaya tidak bergejala berat. Vaksinasi juga penting dilakukan untuk membentuk kekebalan kelompok sehingga dapat terproteksi dari infeksi pneumonia.

Selain vaksinasi, pencegahan lain yang juga perlu dilakukan, sama seperti pencegahan COVID-19, yaitu menjaga kebersihan diri seperti cuci tangan dan menggunakan disinfektan ketika menyentuh permukaan barang.

Diah juga mengingatkan pentingnya untuk menggunakan masker terutama ketika sedang sakit, menghindari kerumunan terutama ketika kasus COVID-19 mulai naik, tidak merokok, serta menjaga kesehatan tubuh secara umum.


Baca juga: 229 bayi usia dua bulan di Jakarta Barat telah divaksin PVC

Baca juga: Agar anak tak sampai kena pneumonia