Dokter Ini Pilih Jadi Mualaf, Terpesona Ajaran Islam di Tengah Pandemi

Lutfi Dwi Puji Astuti
·Bacaan 3 menit

VIVA – Perjalanan spiritual setiap manusia untuk meyakini suatu keyakinan selalu menarik untuk disimak. Bukan hanya kisah perjalanan spritual para selebriti saja yang jadi sorotan, perjalanan seorang dokter untuk belajar tentang agama, ikut pula menjadi sorotan.

Seperti, kisah perjalanan spiritual Dokter Gigi bernama drg Carissa Grani. Dia menjadi sorotan karena memutuskan untuk menjadi mualaf di tengah pandemi COVID-19.

Cerita juga pengalaman orang yang telah mualaf pun berbeda-beda dan banyak faktor yang bisa menyebabkan seseorang akhirnya memilih memeluk agama Islam. Salah satunya adalah orang tersebut diberi sebuah hidayah

Hidayah adalah terbukanya hati untuk menerima Allah SWT dan lapangnya dada untuk meyakini kebenaran agama (Islam). Hidayah juga diberikan langsung oleh Allah SWT kepada umat manusia yang dikehendaki-Nya. Sehingga betapa beruntungnya seseorang yang bisa mendapat petunjuk dari Sang Pencipta.

Mengenai perjalanan menjadi mualaf, Carissa menceritakan pengalamannya lewat Channel YouTube Rasil TV yang diunggah pada sabtu 17 April 2021 lalu.

Secara terbuka alumni Universitas Indonesia tersebut menjelaskan perjalanannya menjadi seorang mualaf . Bahkan dia menceritakan bagaimana jalan datangnya sebuah hidayah tersebut kepadanya.

Carissa mengaku selalu terharu dan selalu ingin menangis ketika diberi hidayah dan bisa memeluk agama Islam seperti sekarang.

"Langsung kayak mau nangis ya, karena memang apa yang terjadi dalam hidup kita itu memang sudah tertulis dalam Lauhul Mahfudz. Itu saya baru tahu juga setelah kembali ke fitrah Islam ini," ungkap dokter Carissa Grani.

Dokter gigi tersebut pun tidak pernah menyangka atau membayangkan sebelumnya, dia akan masuk Islam dan diberi hidayah secepat itu. Padahal sebelumnya ia banyak sekali dikelilingi dengan orang-orang yang mayoritas non muslim

"Dengan latar belakang keluarga saya seperti itu, kemudian latar belakang pendidikan sekolah, kemudian dari suku juga mayoritas non muslim, jadi nggak pernah ada dalam pikiran saya akan sampai saat ini gitu ya,” tambahnya.

Awalnya, saat terjadi pandemi Maret 2020 lalu, banyak orang yang sering sekali mendemokan untuk sering mencuci tangan, menggunakan masker, menjaga jarak dan mematuhi protokol kesehatan lainnya. Lalu, ia mengungkapkan bahwa yang ada dalam pikirannya ialah selalu membayangkan sosok wanita muslimah yang menjaga wudhunya dan tidak boleh bersalaman.

Carissa juga mengakui dengan membayangkan hal seperti itu ia tidak menyangka jika sekarang ia melakukan kebiasaan yang sebelumnya hanya ia bayangkan saja.

"Tapi enggak tahu kenapa saat awal pandemi itu saya melihatnya adalah kok kayak orang muslimah itu ya, kayak kita dipaksa semua pake niqab (cadar) ya, kayak seolah-olah gitu," kata Carissa.

Dengan latar belakang sebagai seorang dokter dan juga di bidang medis dia selalu berfikir bahwa agama Islam sangat baik mengajarkan segala sesuatunya hingga pada akhirnya ia mencari tahu segala gerakan sholat dan wudhu. Lalu ia kembali berfikir mengapa semua yang ia lihat secara medis ilmiah yang semuanya dapat dibuktikan namun juga ajaran agamanya masuk.

"Berawal dari situ sih, gerakan sholat, kenapa jarinya begini harus begitu ditekan, secara medis itu bisa dijelaskan," terang Carissa.

Walau awalnya masih banyak sekali keraguan yang akhirnya mengantarkan Carissa untuk menetapkan hatinya memeluk agama Islam setelah dirinya berkonsultasi kepada Bunda Sri yang ada di Mualaf Center dan sejak itu pula segala sesuatunya dipermudah untuk diberi jalan untuk Carissa masuk Islam.

Laporan: Aufa Prasya Namyra