Dokter: Jangan minum antibiotik jika tak butuh guna cegah resistensi

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan penyakit tropik dan infeksi dari dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr. Robert Sinto, Sp.PD, K-PTI mengatakan sebaiknya seseorang tidak meminum antibiotik apabila memang tidak dibutuhkan untuk mencegah terjadinya resistensi terhadap obat.

“Kalau tidak memang perlu antibiotik, ya, tidak perlu dikonsumsi. Jadi kalau kita sakit dan sakitnya bukan karena infeksi bakteri, tidak perlu minum antibiotik karena kalau kita meminum secara bebas maka kita akan memicu terjadinya resistensi,” kata Robert dalam bincang virtual diikuti di Jakarta, Kamis.

Dia mengingatkan bahwa antibiotik bukanlah obat untuk demam, batuk, dan pilek. Beberapa kondisi demam memang ada yang disebabkan oleh infeksi bakteri, namun bukan berarti semua demam disebabkan infeksi bakteri.

“Kita perlu untuk menilai dulu, ini infeksi bakteri atau bukan, baru kita tentukan. Dan butuh expertise khusus, karena itu butuh konsultasi dengan expert apakah memang saya butuh antibiotik atau tidak,” kata Robert.

Penggunaan obat antibiotik juga harus melalui peresepan oleh dokter. Apabila dokter tidak memberikan antibiotik, Robert mengingatkan sebaiknya pasien tidak perlu memaksa dokter untuk meresepkan antibiotik.

“Gunakan antibiotik secara bijak, rasional, dan tidak diperlukan tidak usah dikasih,” ujar dia.

Baca juga: Dokter ingatkan bahaya resistensi terhadap antibiotik

Baca juga: Dokter mikrobiologi bagikan kiat konsumsi antibiotik secara bijak

Apabila dokter memutuskan untuk memberikan antibiotik, pasien diharapkan menanyakan alasan mengapa dirinya membutuhkan obat tersebut. Dengan begitu, terjadi diskusi dan sama-sama saling mengingatkan.

Jika pasien telah terdiagnosis infeksi bakteri, Robert menyarankan sebaiknya meminta kepada dokter untuk bisa mengadakan pemeriksaan kultur bakteri untuk mengetahui jenis kuman penyebab serta pola kepekaan jenis antibiotik apa yang masih bisa respon terhadap kuman penyebab infeksi. Dengan demikian diharapkan pengobatan dapat lebih terarah.

Upaya pencegahan resistensi antibiotik juga dapat dilakukan dengan mematuhi dan menyelesaikan jangka waktu atau periode pengobatan sesuai anjuran dokter. Ketika pasien tetap meminum obat pada jangka waktu yang lebih lama di luar anjuran dokter, maka hal itu sama saja dengan tindakan mengonsumsi antibiotik padahal sudah tidak diperlukan lagi.

“Sesuai dengan data penelitian yang ada, minimal pemberian berapa hari kita selesaikan, dan sudah tidak usah diperpanjang lagi dan jangan tidak mencapai target tersebut. Itu hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan,” kata Robert.

Dia juga mengingatkan bahwa antibiotik obat esensial yang harus tersedia dan disimpan di dalam rumah. Apabila terdapat antibiotik yang tidak dibutuhkan atau sisa antibiotik, maka sebaiknya buang obat sesuai dengan ketentuan agar tidak mencemari lingkungan. Pasien juga bisa menitipkan sisa antibiotik ke rumah sakit karena pihak rumah sakit sudah memiliki mekanisme untuk penghancuran obat.

“Jangan langsung dibuang ke lingkungan karena itu akan mengotori limbah. Tapi bisa kita lakukan beberapa modifikasi,” ujar Robert.

Terakhir, upaya pencegahan resistensi antibiotik yang tak kalah penting yaitu pencegahan diri agar tidak tertular dengan penyakit-penyakit infeksi dengan protokol kesehatan untuk meminimalkan penyebaran infeksi bakteri yang kebal terhadap obat.

Baca juga: Imunolog larang orang tua beri antibiotik anak demam tanpa indikasi

Baca juga: Kemenkes imbau warga tak asal buang antibiotik cegah pencemaran sungai