Dokter: Kebersihan gigi harus ditanamkan sejak bayi

Dokter gigi Siska Mardiana menyatakan kebersihan gigi harus ditanamkan sejak bayi guna mempersiapkan generasi unggul dan bisa bersaing di tengah era globalisasi itu.

"Bila gigi rusak dan seringkali menimbulkan kesakitan tentu akan berpengaruh terhadap perkembangan kesehatan otak," kata Siska Mardiana saat memperingati Hari Kesehatan Gigi dan Mulut di Kabupaten Lebak, Kamis.

Orang tua harus memperhatikan kondisi kesehatan gigi anak-anaknya dengan menanamkan kebersihan sejak bayi dan usia satu tahun bisa menggunakan sikat gigi.

Baca juga: Dokter: Makanan bersuhu ekstrim bukan penyebab gigi sensitif

Sekarang sudah banyak sikat gigi usia bayi, sehingga perlu ditanamkan oleh orang tuanya sejak bayi.

Masyarakat jangan sampai mengabaikan sakit gigi, karena bisa mengakibatkan infeksi otak dan berdampak terhadap kecerdasan anak.

Karena itu, kecerdasan anak-anak sebagai generasi bangsa penerus tentu harus dijaga kesehatan gigi dan jangan sampai sakit gigi.

Kesehatan gigi, kata dia, dengan melakukan kebersihan sehari dua kali sikat gigi mulai pagi setelah makan dan malam hari mau tidur.

Baca juga: Pemkot Jaksel kampanyekan kebiasaan sikat gigi untuk cegah karies

"Jika gigi itu tidak bersih maka akan terkontaminasi bakteri dari sisa makanan dan bisa menjadi asam, sehingga menimbulkan kerusakan gigi, seperti bolong," kata Siska yang kini tugas di Puskesmas Rangkasbitung.

Menurut dia, selama ini, tingkat kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan gigi masih rendah.

Selain itu juga masyarakat masih memandang pemeriksaan kesehatan gigi masih menakutkan, karena melihat peralatan -peralatan.

Baca juga: PKK Bangka Barat giatkan edukasi jaga kesehatan gigi anak

Begitu juga masyarakat tidak boleh mencabut gigi pada orang yang mengidap penyakit darah tinggi.

Kebanyakan mereka pasien sakit gigi itu, mereka mau melakukan pemeriksaan kesehatan ke Puskesmas dan rumah sakit dalam kondisi sudah parah.

Karena itu, masyarakat jangan sampai terjadi infeksi gigi yang menyebabkan pengidapnya merasakan sakit berlebihan dan sulit untuk tidur.

Bahkan, mematikan apabila kondisinya sudah membengkak besar pada bagian gusi dan mengeluarkan nanah, sehingga mempengaruhi terhadap saluran pernafasan tenggorokan.

"Kita minta masyarakat bila sakit gigi,sebaiknya dilakukan pemeriksaan kesehatan dan jangan menunggu dalam kondisi parah," katanya menjelaskan.

Untuk mencegah sakit gigi,kata dia, pihaknya setahun satu kali melaksanakan program sosialisasi dan edukasi untuk memberikan pengetahuan pentingnya menjaga kebersihan gigi.

Program sosialisasi itu disampaikan pada siswa SD dan SMP agar mereka memahami pentingnya melakukan kesehatan gigi dengan menyikat gigi sehari dilakukan dua kali.

Selain itu juga menghindari makanan yang serba instan, karena menggunakan pengawet juga mengurangi minuman manis-manis dan es.

Sebab, makanan itu lebih cepat menimbulkan kerusakan pada gigi.

"Kita berharap masyarakat agar rajin memeriksakan gigi ke puskesmas dan rumah sakit setiap enam bulan sekali juga menjaga kebersihan dengan menyikat gigi," kata drg Siska.