Dokter: Makin Tua, Risiko Kena Kanker Meningkat

·Bacaan 2 menit

VIVAPandemi COVID-19 telah membuat perawatan kanker secara global sangat terganggu. Hal ini secara signifikan berdampak buruk karena kemungkinan untuk melakukan diagnosis dini, terapi, dan pemantauan pasien kanker menjadi tertunda.

Padahal, jika ditemukan pada tahap awal, sebelum kanker bermetastasis, hasil akhir perawatan pasien biasanya lebih baik. Langkah paling utama adalah dengan mengenali faktor pemicu kanker. Ada pun dua faktornya yakni yang dapat dan tak dapat dikontrol.

"Makin tua, risiko kena kanker meningkat. Usia itu faktor yang enggak bisa dimodifikasi," ujar Ketua Tim Kerja Onkologi Paru PDPI, Prof. dr. Elisna Syahruddin Ph.D, Sp.P(K), dalam acara peluncuran PULIH (Program Peduli Sehat) bersama AstraZeneca, Rabu 28 Juli 2021.

Selain usia, dua faktor lainnya yang tak dapat dikontrol adalah jenis kelamin dan riwayat kanker atau genetik. Untuk itu, ketiga hal ini harus diutarakan secara jujur saat berkonsultasi dengan dokter.

"Kalau faktor yang dapat dikontrol berupa paparan asap rokok, polusi indoor dan outdoor yang berkorelasi dengan ventilasi dan lingkungan rumah, pekerjaan yang berkaitan dengan zat karsinogenik, dan penyakit paru kronik seperti TBC," kata Elisna.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menganjurkan, kata Elisna, agar di usia 45 tahun segera melakukan skrining terkait kanker paru apabila memiliki faktor-faktor tersebut. Sebab, di Indonesia puncak usia orang terkena kanker paru berada di usia 55-65 tahun.

"Rekomendasi skrining juga pada perokok pasif atau yang baru 10 tahun berhenti merokok. Skrining itu dilakukan paling baik sebelum ada gejala, apalagi kanker paru, baru bisa dideteksi setelah 10 tahun terbentuk," jelasnya.

Untuk skrining, disarankan menjalaninya tiap 2 tahun sekali dengan menggunakan Low Dose CT Scan. Jika sudah terlanjur ada gejala, segera lakukan deteksi dini. Biasanya, gejala pada gangguan di paru-paru, termasuk kanker, meliputi empat hal.

"Batuk lama, batuk darah, sesak napas, nyeri dada. kalau ada gejala ini ada hubungannya dengan penyakit di saluran napas," imbuhnya.

Direktur AstraZeneca Indonesia, Rizman Abudaeri setuju, kanker membutuhkan deteksi dan penanganan sedini mungkin agar meningkatkan keberhasilan pengobatan kanker. Terlebih, berdasarkan data Global Cancer Statistic (Globocan) 2020, jumlah kasus baru kanker paru di Indonesia meningkat 8,8% menjadi 34.783 kasus atau menempati peringkat ketiga. Sementara itu, jumlah kematian akibat kanker paru meningkat 13,2% menjadi 30.843 jiwa atau menempati peringkat pertama

"Untuk membentuk dan mensosialisasikan aplikasi PULIH ini, AstraZeneca bangga dapat bekerjasama dengan Yayasan Kanker Indonesia. Pandemi tidak seharusnya menghalangi penanganan kanker, karena setiap harinya pasien kanker berlomba dengan waktu untuk mengalahkan kanker, terutama kanker paru yang saat ini sangat rentan tertular COVID-19 dan mengalami komplikasi berat," ujar Rizman.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel