Dokter Maria Louisa, Menerobos Belantara Papua Demi Tolong Sesama

·Bacaan 5 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Maria Louisa Rumateray memilih meninggalkan kampung halamannya. Merantau ke Ibu Kota untuk mewujudkan cita-cita. Menjadi seorang dokter untuk menolong sesama.

Selama beberapa tahun, Maria menghabiskan waktunya di Jakarta. Menimba ilmu untuk menjadi seorang dokter. Dia memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin. Sebab sadar tak semua orang bisa seberuntung dirinya.

Tahun berjalan. Wanita disapa Mia ini lulus dari bangku kuliah Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) Jakarta. Meski tahu peluang meniti karir lebih baik di Jakarta. Tetapi Mia memilih pulang ke kampung halamannya. Di Wamena, Tanah Papua.

Mia memilih mengabdi di pedalaman Papua. Dia yakin warga di sana lebih membutuhkannya. Berbekal niat mulia itulah. Mia tak menyerah menerobos belantara Papua. Sebut saja daerah seperti Kaimana (suku Mairasi), Yahukimo (suku Korowai), dan Wondama (Kampung Karabura). Sudah disinggahinya sejak tahun 2018.

Mia tidak sendiri. Kemuliaannya memberi pelayanan kesehatan untuk warga Papua mendapat dukungan pula dari Yayasan Helivida. Yayasan Helivida sudah belasan tahun melayani masyarakat Papua. Pemberian nama Helivida bukan tanpa makna. Vida berarti kehidupan. Harapannya, Yayasan Helivida menjadi 'helikopter pemberi kehidupan' untuk rakyat Papua.

Mia bertekad. Pengabdian ini tak semata-mata demi harta. Siapapun akan dia tolong tanpa memandang kasta. Medan terjal dihadapi meski berbahaya. Sebab, mendapatkan pelayanan kesehatan adalah hak semua.

"Selama kaka melakukan pelayanan kesehatan di daerah pedalaman, di wilayah pegunungan Papua, kebanyakan yang kaka jumpai itu orang dengan gangguan kesehatan, seperti ISPA, dan filariasis atau kaki gajah, ada juga malaria," cerita dr Mia tentang pasien yang ditangani. Mia bersedia membagikan kisahnya pada merdeka.com, beberapa waktu lalu.

dokter maria louisa rumateray
dokter maria louisa rumateray

©2022 Merdeka.com/Richard Icahd

Banyak suka duka dilalui dr Mia selama melayani kesehatan masyarakat Papua. Pernah sekali waktu, tepat di saat ayahnya meninggal dunia. dr Mia mendapat panggilan dadakan. Di ujung telepon, terdengar suara seorang pilot.

"Dokter Mia, kita harus berangkat pelayanan ke Agisiga."

Sebagai informasi daerah Agisiga terletak di perbatasan dari tiga kabupaten besar di Papua, yaitu Kabupaten Paniai, Timika, dan Jayawijaya.

Meski berat hati, dr Mia meminta izin pada ibunya. Pertolongan kesehatan tidak bisa dia tolak. Mia memutuskan terbang memberikan pertolongan dengan risiko tidak mengikuti acara pemakaman sang ayah.

"Kamu harus pergi segera. Itu panggilan emergency. Pilot sudah telepon berarti beberapa menit lagi harus berangkat," kenang dr Mia pada pesan ibunya.

Penerbangan ke Agisiga memakan waktu lebih kurang dua jam lebih. Saat itu, cuaca di Wamena luar biasa cerah. Pemandangan alamnya indah. Namun karena masih berduka, dia memilih menikmati saja ciptaan Tuhan yang terhampar di hadapannya. Sambil terdiam, wajah murung sesekali terbawa dalam lamunan.

dr Mia tiba di Agisiga. Dia kaget. Masyarakat sudah menunggu kedatangannya. Dia langsung diarahkan menuju ke Gereja, sebab pasien berada di sana. Pasiennya adalah seorang ibu yang sedang melahirkan bayi kembar. Satu meninggal, satu masih dalam perut. Plasentanya menghalangi jalan keluar anak.

"Di saat itu kaka tidak bisa mengambil tindakan apa-apa, sebab jika bertindak, dampaknya adalah pendarahan. Sementara pasien harus dievakuasi ke Wamena, guna operasi sesar, sehingga tidak diberikan tindakan apa-apa, mengingat pendarahan yang dapat berdampak pada pasien (ibu) meninggal dalam dua jam perjalanan, dari Agisiga ke Wamena," tuturnya.

Saat itu juga, dr Mia memutuskan untuk membawa pasien ke Wamena agar mendapat tindakan. Namun keluarga pasien minta dibawa ke Timika karena banyak kerabat siap menolong. Mereka khawatir bila harus ke Wamena, keluarga tidak bisa mendampingi.

"Kaka yakinkan mereka bahwa di Wamena ada keluarga. Akhirnya mereka mau, selanjutnya pasien diterbang ke Wamena," katanya.

Setibanya di Bandara Wamena, pilot kaget melihat banyak tenda biru di halaman rumah dr Mia. Pilot mengira ada pesta. Padahal ayahnya sudah tiada.

Usai mengantar pasien ke UGD, barulah dia bercerita. Tentang ayahnya yang meninggal dunia hari itu dan segera dimakamkan.

Pilot berkebangsaan Amerika Serikat itu merasakan kesedihan dr Mia. Dia membungkuk sambil menyampaikan rasa duka cita.

"Misi kemanusiaan telah kita lakukan dengan baik hari ini, mari kita antar bapak mu ke tempat peristirahatan terakhirnya," kata dr Mia menirukan ucapan sang pilot.

Pengorbanan dr Mia sungguh luar biasa, dia menghilangkan rasa duka demi menuntaskan misi kemanusian. Menurutnya, kita yang hidup akan menguburkan orang mati. Tetapi kita harus ingat, tetap melayani yang hidup.

Tantangan di Pedalaman Papua

dokter maria louisa rumateray
dokter maria louisa rumateray

©2022 Merdeka.com/Richard Icahd

dr Mia mengakui. Memberikan pelayanan kesehatan di pedalaman Papua memiliki tantangan tersendiri. Sebab secara topografi dan geografis, wilayah Papua terbilang unik, bercampur sulit, ekstrem, dan menyeramkan. Namun semua terasa menyenangkan ketika bekerja dengan ikhlas memberikan pertolongan untuk masyarakat Papua.

"Dengan menggunakan helikopter untuk menjangkau orang-orang atau masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Dan hal itu kaka lakukan untuk melayani mereka, kendati pun jauh," ujarnya.

Tantangan lainnya, kata dr Mia, masyarakat masih takut minum obat. Karena itu, dia punya trik jitu. Sebelum memberikan obat ke pasien, terlebih dahulu menanyakan kepada kepala suku di sana. Apakah ada pantangnya, atau jika terjadi sesuatu setelah pasiennya minum obat apakah akan kena denda.

"Seumpamanya terjadi efek samping, apa tanggung-jawab saya sebagai seorang dokter, berupa tuntutan begitu? Karena masih takut, kaka (kami) hanya mengoleskan alkohol dan salep. Kalau hanya oles-oles saja mereka mau," katanya.

Jadi perlu diingat, jika berkunjung ke daerah baru terlebih Papua, pahami dulu topografinya, geografisnya, kulturnya, dan karakternya, dari setiap suku-suku atau masyarakat di Papua. Termasuk paham antropologi kesehatan daerah tersebut.

"Tidak bisa langsung datang dan paksa keinginan kita tiba-tiba mengajak dengan nada, "ayo ibu-ibu, bapak-bapak, kira-kira besok jam berapa bisa kumpul untuk pengobatan" Tidak ada konsep begitu dipake di Papua. Kita yang harus menyesuaikan dengan jam-jam dari aktivitas dalam rutinitas mereka hari lepas hari. Di situ baru kita bisa mengajak mereka, untuk pengobatan," pungkasnya.

Berkat dedikasinya memberikan pelayanan kesehatan untuk masyarakat pedalaman Papua, sederet penghargaan berhasil diraih dr Mia. Pada tahun 2021, dia mendapat penghargaan dari Presiden berupa satya lencana kebaktian sosial atas kerja kemanusiaan di pegunungan tengah Papua. [lia]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel